abadinews.id, Surabaya - Dalam semangat perayaan budaya urban yang terus berkembang, Festival Rujak Uleg Surabaya 2026 menghadirkan warna baru melalui penampilan spektakuler bertajuk *Football Fashion Couture: Anatomy of the Game* karya desainer sekaligus seniman pertunjukan Embran Nawawi. Karya tersebut tampil memukau pada gelaran Festival Rujak Uleg Surabaya yang berlangsung Sabtu, 9 Mei 2026, mengusung tema besar “Rujak Phoria.”
Baca Juga: Quest Hotel Darmo Surabaya Gandeng Pengrajin Batik Tuban dan Designer
Penampilan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan Festival Rujak Uleg Surabaya, sebuah fashion show konseptual karya desainer ditampilkan sebagai bagian dari perayaan budaya tahunan Kota Surabaya. Kehadiran karya Embran Nawawi sekaligus menandai terbukanya ruang baru bagi seni kontemporer untuk berdialog dengan budaya rakyat dalam satu panggung yang inklusif dan progresif.
Melalui "Football Fashion Couture: Anatomy of the Game", Embran Nawawi menghadirkan pembacaan ulang terhadap sepak bola sebagai fenomena budaya yang melampaui batas olahraga. Dalam perspektif artistiknya, sepak bola bukan hanya pertandingan di atas lapangan hijau, tetapi sebuah sistem simbolik yang memuat identitas kolektif, emosi massa, struktur peran, hingga representasi sosial yang hidup dalam tubuh, kostum, dan gerak.
Terinspirasi dari visual jersey klasik era 1970 FIFA World Cup, karya ini mentransformasikan berbagai elemen ikonik sepak bola seperti nomor punggung, garis vertikal jersey, warna kontras, bola, kaus kaki, hingga atribut pertandingan ke dalam bahasa haute couture yang eksperimental, distorsif, dan performatif. Seragam yang semula bersifat fungsional diolah menjadi medium ekspresi artistik yang sarat makna simbolik.
Di tangan Embran Nawawi, jersey tidak lagi dimaknai sebagai uniform semata, melainkan berubah menjadi arsitektur identitas yang merepresentasikan karakter, emosi, dan dinamika sosial dalam dunia sepak bola. Karya ini dibangun melalui delapan figur yang merepresentasikan anatomi permainan, yakni wasit, penjaga gawang, kapten, pelatih, suporter, maskot, hakim garis, dan ball boy.
Masing-masing figur menghadirkan simbolisme yang berbeda. Wasit merepresentasikan otoritas dan aturan, penjaga gawang melambangkan perlindungan, kapten menjadi simbol kepemimpinan, pelatih mewakili strategi, sementara suporter menghadirkan energi kolektif dan semangat massa. Di sisi lain, maskot menjadi representasi imajinasi dan hiburan, hakim garis mencerminkan keseimbangan permainan, sedangkan ball boy menggambarkan kehadiran kecil yang sering tak terlihat namun memiliki fungsi penting dalam ekosistem pertandingan.
Secara visual, karya ini tampil kuat melalui penggunaan palet monokrom hitam-putih yang tegas dan dramatis. Pilihan warna tersebut tidak hanya merujuk pada seragam wasit dan arsip visual pertandingan sepak bola klasik, tetapi juga memperkuat kesan grafis dan teatrikal dalam keseluruhan pertunjukan. Elemen bola dihadirkan sebagai objek sculptural, sedangkan garis-garis jersey diterjemahkan menjadi komposisi geometris dan drapery yang dinamis.
Eksplorasi distorsi siluet, pembesaran proporsi kostum, serta transformasi tekstil menciptakan ketegangan artistik antara disiplin olahraga dan kebebasan ekspresi mode. Hasilnya adalah pertunjukan visual yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga kaya akan pembacaan budaya.
Sebagai seorang seniman pertunjukan, Embran Nawawi tidak berhenti pada penciptaan busana semata. Seluruh karya dihidupkan melalui pendekatan koreografi yang membuat setiap kostum bergerak sebagai tubuh yang memiliki narasi. Gerakan para model menjadi perpanjangan makna dari kostum yang dikenakan, menciptakan perpaduan antara fashion, performance art, teater visual, dan budaya populer dalam satu medan artistik yang interdisipliner.
Kehadiran Football Fashion Couture: Anatomy of the Game* di Festival Rujak Uleg Surabaya 2026 menunjukkan bagaimana festival budaya rakyat mampu berkembang menjadi ruang eksplorasi seni kontemporer yang inovatif. Sebagaimana filosofi rujak uleg yang memadukan beragam rasa dalam satu sajian khas, karya ini juga menyatukan olahraga, mode, seni pertunjukan, dan ekspresi budaya populer menjadi komposisi visual yang segar, energik, dan penuh dinamika.
Pada akhirnya, karya Embran Nawawi menegaskan bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang tidak hanya dimainkan, tetapi juga dikenakan, dipertunjukkan, dan dirayakan. Dari lapangan hijau menuju panggung couture, *Football Fashion Couture: Anatomy of the Game* menghadirkan transformasi seragam menjadi simbol, pertandingan menjadi pertunjukan, dan olahraga menjadi karya seni yang hidup di tengah masyarakat modern.(Red)
Editor : Redaksi