Pameran Printing Terbesar di Indonesia Timur Resmi Digelar, Surabaya Jadi Magnet Industri Grafika

avatar abadinews.id

abadinews.id, Surabaya – Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 resmi dibuka dan kembali menegaskan posisinya sebagai pameran teknologi percetakan terbesar dan terlengkap di Jawa Timur. Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran yang digelar pada 8–11 Juli 2026 ini menghadirkan sekitar 150 perusahaan, termasuk 10 pelaku UMKM, serta menargetkan lebih dari 15.000 pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia.

 

CEO Krista Exhibitions,Daud Salim, mengungkapkan rasa syukur karena Surabaya Printing Expo mampu bertahan dan terus berkembang selama lebih dari dua dekade perjalanan industri grafika nasional.

 

Menurutnya, perjalanan SPE dimulai sejak lebih dari 20 tahun lalu dan sempat berpindah lokasi beberapa kali, mulai dari KJPD, JX International hingga akhirnya menetap di Grand City Convex. Meski sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, pameran ini kembali bangkit dan kini memasuki penyelenggaraan ke-19.

 

"Surabaya Printing Expo tumbuh bersama perkembangan industri printing, baik di Indonesia maupun dunia. Kami bersyukur pameran ini terus mendapat kepercayaan pelaku industri dan menjadi agenda penting di Jawa Timur," ujar Daud saat pembukaan.Rabu(8/7/26)

 

Ia menjelaskan, SPE merupakan bagian dari rangkaian pameran nasional Krista Exhibitions. Sebelumnya, Krista sukses menggelar pameran industri makanan dan minuman serta sektor hospitality di Surabaya yang menunjukkan tingginya pertumbuhan industri pengolahan di Jawa Timur.

 

Daud menilai Jawa Timur kini memiliki posisi strategis sebagai gerbang kawasan Indonesia Timur dengan ekosistem industri yang sangat kuat, mulai dari makanan dan minuman, kemasan, kosmetik, farmasi, tekstil, pertanian, perikanan hingga ekonomi kreatif.

 

"Pertumbuhan seluruh sektor tersebut membutuhkan teknologi percetakan dan kemasan yang semakin modern, produktif, efisien, dan berkualitas tinggi. Kami berharap SPE menjadi katalis percepatan transformasi industri grafika dan kreatif di Jawa Timur sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat regional maupun internasional," katanya.

 

Tidak hanya menjadi ajang pamer mesin, SPE 2026 juga menghadirkan berbagai seminar dan workshop mengenai transformasi digital, artificial intelligence (AI) untuk desain grafis, inovasi kemasan, branding produk, hingga strategi agar UMKM mampu naik kelas.

 

Pameran ini mempertemukan produsen teknologi, distributor, pelaku usaha, investor, akademisi, sekolah kejuruan hingga konsumen industri dalam satu wadah kolaborasi dan transfer pengetahuan.

 

Puncak rangkaian pameran industri printing nasional Krista Exhibitions akan berlangsung di Jakarta pada Oktober 2026 dengan peserta dari berbagai negara.

 

 

 

Ketua DPD Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jawa Timur, Iwan Dhamar, mengatakan industri percetakan saat ini sedang memasuki fase transformasi besar. Pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan mesin cetak konvensional, tetapi mulai beralih menuju teknologi digital yang lebih fleksibel dan efisien.

 

Ia menjelaskan bahwa pengunjung tidak lagi akan menemukan dominasi mesin cetak berbasis offset seperti beberapa tahun lalu karena teknologi digital kini berkembang sangat pesat.

 

"Pelaku industri harus mencari bentuk baru untuk mempertahankan pasar. Pameran ini menunjukkan bahwa mesin-mesin terbaru mengikuti perkembangan teknologi digital yang semakin canggih dan membuka ruang kreativitas tanpa batas," ujarnya.

 

Menurut Iwan, SPE menjadi daya tarik bagi pelaku industri kreatif dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Jawa Timur, pengunjung juga datang dari Bali, Kalimantan hingga berbagai provinsi lain yang memiliki jaringan PPGI.

 

Ia berharap transformasi tersebut mampu melahirkan lebih banyak wirausaha baru sehingga industri grafika tidak hanya bergantung pada pasar tradisional, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru di sektor kreatif.

 

 

 

Ketua Umum PPGI,Ahmad Mughira Nurhani, menegaskan Surabaya Printing Expo bukan sekadar pameran mesin percetakan, melainkan ruang kolaborasi, pembelajaran dan solusi bagi pelaku industri.

 

Menurutnya, perkembangan teknologi printing, industrial packaging, labeling dan creative printing membuka peluang bisnis yang sangat besar seiring pertumbuhan industri manufaktur, e-commerce serta kebutuhan kemasan modern.

 

"Pameran ini menjadi tempat pelaku usaha menemukan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas, menghemat energi, mengurangi limbah dan menghasilkan efisiensi operasional," katanya.

 

Ia mendorong anggota PPGI yang mayoritas merupakan pelaku UMKM agar berani melakukan diversifikasi usaha, memasuki pasar kemasan modern, serta memanfaatkan teknologi otomatisasi dalam proses produksi.

 

Ahmad menyebut potensi industri grafika nasional masih sangat besar dengan nilai pasar mencapai sekitar Rp197 triliun. Pertumbuhan kebutuhan kemasan, cetak komersial serta sektor pendidikan menjadi indikator bahwa industri grafika memiliki prospek menjanjikan.

 

"Industri grafika Indonesia bukan sedang melemah, tetapi sedang bertransformasi menuju era yang lebih modern dan memiliki nilai tambah lebih tinggi," tegasnya.

 

 

 

Mewakili Gubernur Jawa Timur, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan tren positif.

 

Kontribusi Jawa Timur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 14,40 persen, sementara pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

 

Menurutnya, struktur ekonomi Jawa Timur didominasi sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sekitar 31 persen, disusul perdagangan sebesar 18,77 persen dan pertanian sekitar 10,51 persen.

 

Di dalam sektor industri pengolahan tersebut, industri percetakan memiliki posisi strategis. Nilai PDRB industri percetakan Jawa Timur mencapai sekitar Rp27,64 triliun, dengan pertumbuhan kumulatif sekitar 11,48 persen dalam tiga tahun terakhir.

 

"Kontribusi industri percetakan terhadap sektor industri pengolahan berada pada kisaran hampir lima persen. Ini menunjukkan industri grafika memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi Jawa Timur," ujarnya.

 

Ia juga menyoroti meningkatnya penetrasi internet di Jawa Timur yang telah mencapai lebih dari 83 persen, sehingga transformasi digital menjadi peluang besar bagi industri printing untuk mengembangkan layanan berbasis teknologi, termasuk sistem cetak jarak jauh, otomatisasi produksi, hingga integrasi kecerdasan buatan (AI).

 

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia, perlindungan hak kekayaan intelektual, keamanan data, serta kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mendorong perusahaan peserta SPE membuka kesempatan magang bagi siswa SMK dan mahasiswa agar mereka dapat belajar langsung menggunakan teknologi terbaru di dunia industri.

 

Melalui Surabaya Printing Expo 2026, pemerintah berharap tercipta lebih banyak transaksi bisnis, transfer teknologi, kerja sama investasi serta kolaborasi internasional yang mampu memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pusat industri grafika dan percetakan nasional menuju pasar global.(Red)

 

Editor : Redaksi

abadinews.id horizontal

Berita Lainnya

abadinews.id horizontal