abadinews.id,Jember - Di tengah meningkatnya semangat pengembangan produk lokal dan inovasi berbasis lingkungan, mahasiswa dari Politeknik Negeri Jember menghadirkan terobosan unik melalui produk mie sehat berbahan dasar limbah kulit singkong. Produk bernama “Miona” tersebut sukses mencuri perhatian pengunjung dalam ajang pameran inovasi dan UMKM di Jember karena mampu mengubah limbah pertanian menjadi makanan bernilai ekonomis tinggi.
Baca juga: Jember 5K Fun Run,Ribuan Peserta Ramaikan Alun-Alun Jember
Inovasi ini digagas oleh mahasiswa Polije bernama Anggi bersama timnya. Ia menjelaskan, ide pembuatan Miona lahir dari keresahan melihat banyaknya limbah kulit singkong yang terbuang percuma di Kabupaten Jember, daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi tape singkong terbesar di Jawa Timur.
Menurut Anggi, kulit singkong yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki kandungan serat dan pati yang cukup tinggi sehingga berpotensi diolah kembali menjadi bahan pangan sehat dan bernilai jual.
“Melalui Miona, kami ingin mengembangkan inovasi sirkular agri industri. Jadi bahan yang biasanya dianggap limbah justru kami olah menjadi produk yang punya nilai jual. Jember terkenal dengan tape singkong, sehingga kulitnya melimpah dan sering dibuang. Dari situ kami berpikir bagaimana limbah ini bisa dimanfaatkan menjadi olahan yang sehat dan menarik,” ujar Anggi.
Ia menjelaskan, proses pengolahan kulit singkong dilakukan secara teliti dan higienis agar aman dikonsumsi masyarakat. Bagian yang digunakan adalah lapisan dalam kulit singkong. Sebelum diolah, bahan terlebih dahulu dicuci menggunakan campuran garam dan cuka guna membantu mengurangi kandungan asam sianida yang terdapat pada singkong mentah.
Setelah proses pencucian awal, kulit singkong kemudian dibilas sebanyak tiga hingga empat kali sebelum direbus selama kurang lebih satu jam. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kandungan berbahaya benar-benar hilang. Setelah direbus, bahan kemudian diblender hingga menjadi adonan dasar pembuatan mie sehat.
“Prosesnya cukup panjang karena kami harus memastikan kandungan asam sianida hilang. Setelah dicuci, direndam, dibilas berkali-kali, baru direbus dan dihaluskan. Dari situlah adonan mie kami buat. Kandungan kulit singkong sendiri ada kanji dan serat, jadi sangat cocok sebagai bahan dasar produk makanan sehat,” jelasnya.
Selain mengedepankan aspek kesehatan, Miona juga membawa konsep keberlanjutan dan pengurangan limbah pangan. Produk ini menjadi contoh nyata bagaimana limbah hasil pertanian dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung gerakan ramah lingkungan.
Saat ini pemasaran Miona masih menyasar lingkungan kampus, komunitas anak muda, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap pola hidup sehat. Promosi dilakukan melalui media sosial dan keikutsertaan dalam berbagai event pameran UMKM maupun festival inovasi kreatif di Jember dan sekitarnya.
Baca juga: Jatim Specialty Coffee & Tobacco 2026 Resmi Digelar, Targetkan 4.000 Pengunjung
“Untuk target market sementara masih di sekitar kampus dan masyarakat umum yang tertarik dengan makanan sehat. Kami juga aktif promosi lewat Instagram dan mengikuti event seperti ini agar lebih banyak masyarakat mengenal produk kami,” tambah Anggi.
Miona sendiri dipasarkan dalam dua varian, yakni kemasan instan dengan harga Rp9.000 dan kemasan siap saji seharga Rp12.000. Dengan harga yang terjangkau, mahasiswa berharap produk tersebut dapat diterima masyarakat luas sekaligus membuka pandangan baru bahwa limbah pangan masih bisa dimanfaatkan menjadi produk unggulan.
Sementara itu, Ketua MAKI Jawa Timur Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur, Heru Satryo, memberikan apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa dalam mengolah limbah kulit singkong menjadi produk inovatif bernilai ekonomi.
Menurut Heru, langkah tersebut merupakan bentuk nyata inovasi generasi muda dalam mendukung ekonomi hijau, ketahanan pangan, dan penguatan UMKM berbasis potensi lokal daerah.
“Ini luar biasa. Anak-anak muda sudah mampu melihat limbah bukan sebagai sampah, melainkan sebagai peluang. Inovasi seperti Miona menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi kreatif bisa dimulai dari bahan sederhana yang selama ini terabaikan. Ini harus didukung karena bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” kata Heru Satryo.
Baca juga: Heru Satriyo Apresiasi Terpilihnya Dhima Akhyar sebagai Direktur PDP Kahyangan
Ia menilai, Jember memiliki potensi besar dalam pengembangan produk turunan singkong karena daerah tersebut sudah lama dikenal sebagai penghasil tape berkualitas. Kehadiran Miona dinilai dapat memperkuat identitas baru produk olahan khas Jember yang modern, sehat, sekaligus ramah lingkungan.
“Kalau produk seperti ini terus didampingi, bukan tidak mungkin menjadi ikon baru. Jember punya bahan baku melimpah, punya anak muda kreatif, tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar inovasi ini bisa naik kelas menjadi produk unggulan nasional,” tegas Heru.
Melalui inovasi Miona, Anggi dan tim berharap masyarakat Indonesia semakin memahami bahwa singkong tidak hanya dapat diolah menjadi tape atau makanan tradisional, tetapi juga menjadi produk modern yang sehat, ekonomis, dan berkelanjutan.
Produk Miona sendiri dapat dipesan melalui akun Instagram “mionna__” dengan kontak WhatsApp yang tersedia pada bio media sosial mereka.
Editor : Redaksi