abadinews.id, Surabaya – Partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum menjadi salah satu indikator penting dalam kehidupan demokrasi. Di tengah upaya meningkatkan keterlibatan publik dalam proses politik, Generasi Z dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.
Baca Juga: Ning Lia Ajak Kader Fatayat NU Pragaan Perkuat Kesadaran Politik dan Kepemimpinan Perempuan
Hal tersebut disampaikan Anggota MPR RI sekaligus Senator asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E., dalam kegiatan Serap Aspirasi yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Lia menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam proses demokrasi. Menurutnya, Gen Z memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui semangat, idealisme, serta kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
"Gen Z memiliki semangat, idealisme, dan kepedulian yang besar terhadap masa depan bangsa. Mereka adalah penjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur," ujar Lia Istifhama.
Menurut Lia, generasi muda tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai kelompok pemilih dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Lebih dari itu, mereka memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam mengawal proses demokrasi, menyampaikan aspirasi, serta membangun kesadaran politik di tengah masyarakat.
Peran tersebut menjadi semakin penting seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang mengubah pola komunikasi dan partisipasi masyarakat. Generasi Z yang tumbuh di tengah ekosistem digital memiliki akses luas terhadap berbagai informasi dan ruang untuk menyampaikan pandangan mengenai persoalan publik.
Namun, keterbukaan informasi juga perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital. Generasi muda perlu memiliki sikap kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan politik dan kepemiluan. Kemampuan membedakan fakta, opini, dan disinformasi menjadi bagian penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat.
Peningkatan partisipasi pemilih di Jawa Timur menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai penguatan demokrasi. Tingkat partisipasi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kehadiran pemilih di tempat pemungutan suara (TPS), tetapi juga mencerminkan keterlibatan warga negara dalam menentukan arah kepemimpinan dan masa depan pemerintahan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan politik menjadi salah satu aspek yang perlu terus diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa hak pilih merupakan hak konstitusional yang memiliki arti penting dalam sistem demokrasi.
Keterlibatan pemilih juga tidak semestinya berhenti setelah proses pemungutan suara selesai. Partisipasi masyarakat dapat dilanjutkan melalui pengawasan kebijakan publik, penyampaian aspirasi, serta keterlibatan dalam berbagai ruang sosial dan kemasyarakatan.
Bagi generasi muda, pemahaman tersebut penting agar mereka tidak bersikap apatis terhadap persoalan publik. Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi bagian dari masyarakat yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
Baca Juga: HUT ke-22 DPD RI, Ning Lia Dorong Politik Humanis dan Perlindungan Anak Down Syndrome
Kegiatan Serap Aspirasi KPU Provinsi Jawa Timur bersama Lia Istifhama menjadi ruang dialog untuk membahas pentingnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilu dan penguatan kehidupan demokrasi.
Penyelenggaraan pemilu yang partisipatif membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Selain penyelenggara pemilu, peran tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas, serta generasi muda diperlukan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai hak dan kewajiban politiknya.
Dalam hal ini, pendidikan pemilih memiliki peran penting untuk membangun kesadaran bahwa pemilu bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.
KPU juga memiliki peran strategis dalam memberikan informasi kepemiluan yang akurat, meningkatkan pendidikan pemilih, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pemilu.
Sinergi antara penyelenggara pemilu dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kepercayaan publik sekaligus menciptakan lingkungan demokrasi yang terbuka terhadap aspirasi dan perbedaan pandangan.
Baca Juga: Di Balik Karya Seni, Ada Kreativitas yang Layak Mendapat Apresiasi
Lia Istifhama menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari keberlanjutan demokrasi. Semangat dan idealisme yang dimiliki Gen Z perlu diwujudkan melalui keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial, politik, dan kemasyarakatan.
Generasi muda memiliki ruang untuk berkontribusi melalui berbagai cara, mulai dari menggunakan hak pilih, mengikuti diskusi publik, menyampaikan kritik konstruktif, hingga mengawal isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Selain itu, sikap menghormati perbedaan pilihan juga menjadi bagian penting dalam membangun kedewasaan demokrasi. Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi dan perlu disikapi dengan mengedepankan dialog, toleransi, serta penghormatan terhadap hak setiap warga negara.
Dengan demikian, keberhasilan demokrasi tidak hanya diukur dari tingginya angka partisipasi pemilih, tetapi juga dari kualitas keterlibatan masyarakat dalam mengawal proses pemerintahan dan kehidupan bernegara.
Pesan Lia mengenai posisi Gen Z sebagai penjaga keberlangsungan demokrasi menjadi penegasan bahwa masa depan demokrasi Indonesia turut ditentukan oleh sejauh mana generasi muda memahami dan menjalankan perannya sebagai warga negara.
Partisipasi pemilih yang terus diperkuat, pendidikan politik yang berkelanjutan, serta keterlibatan aktif generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi yang inklusif dan berkesinambungan.(Red)
Editor : Redaksi