Ratusan Santri Manba’ul Hikam Diduga Keracunan MBG, Ning Lia Beri Penguatan Mental Korban

avatar abadinews.id

abadinews.id, Sidoarjo — Ratusan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

 

Baca Juga: Ning Lia: Daya Beli Melemah, Pemerintah Jangan Sekadar Bakar APBN

Peristiwa tersebut membuat ratusan santri mengalami gangguan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis. Puluhan santri dilaporkan terus berdatangan ke sejumlah rumah sakit di Kabupaten Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.

 

Salah satu rumah sakit yang menerima pasien terdampak adalah RSUD Notopuro Sidoarjo. Selain itu, sejumlah rumah sakit lainnya juga melakukan penanganan terhadap para santri yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tersebut.

 

Jumlah santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam yang terdampak dalam kejadian tersebut dilaporkan mencapai **lebih dari 500 orang, Kasus dugaan keracunan massal ini pun menjadi perhatian serius mengingat banyaknya korban yang harus mendapatkan pertolongan medis dalam waktu hampir bersamaan.

 

Di tengah situasi tersebut, Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, langsung bertolak dari Jakarta menuju Sidoarjo. Kedatangannya tidak hanya untuk melihat secara langsung kondisi para santri yang menjalani perawatan, tetapi juga memberikan penguatan mental atau mental healing kepada para korban.

 

Ning Lia kemudian mengunjungi para santri yang dirawat di RS Delta Surya Sidoarjo. Dalam kunjungan tersebut, ia berupaya memberikan pendampingan psikologis agar para santri tetap tenang dan tidak mengalami tekanan berlebihan setelah menghadapi kondisi kesehatan yang terjadi secara mendadak.

 

Di ruang perawatan, Ning Lia berinteraksi langsung dengan sejumlah santri. Ia mengajak mereka berbincang, mendengarkan kondisi yang mereka alami, sekaligus memberikan motivasi agar tetap semangat menjalani proses pemulihan.

 

Menurutnya, penguatan mental menjadi bagian penting dalam penanganan korban, terutama setelah mereka mengalami kejadian yang dapat menimbulkan rasa takut, cemas, maupun trauma.

 

Pendampingan psikologis tersebut diharapkan dapat membantu para santri melewati masa pemulihan dengan lebih tenang. Terlebih, dugaan keracunan makanan yang terjadi secara massal dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para korban maupun keluarga mereka.

 

Sementara itu, kondisi pasien yang menjalani perawatan di RS Delta Surya dilaporkan terus menunjukkan perkembangan positif. Para santri mendapatkan penanganan dari tim medis sesuai dengan kondisi masing-masing.

 

Ning Lia juga menyampaikan apresiasi terhadap kesiapsiagaan dan gerak cepat tenaga medis dalam menangani para korban. RS Delta Surya menjadi salah satu dari sembilan rumah sakit di Sidoarjo yang menerima pasien terdampak sejak Selasa, 1 September 2026.

Baca Juga: Lia Istifhama Turun Langsung Fogging, Jombang Perkuat Kesiapan Sambut Muktamar NU ke-35

 

"Saya mengapresiasi kesiapsiagaan tim medis RS Delta Surya yang memberikan pelayanan medis terbaik untuk korban yang datangnya silih berganti hingga siang hari tadi," ungkap Ning Lia.

 

Ia menilai, dalam situasi darurat yang melibatkan banyak korban, kecepatan dan ketepatan penanganan medis harus menjadi perhatian utama. Keselamatan korban, menurutnya, harus ditempatkan sebagai prioritas sebelum dilakukan proses evaluasi secara menyeluruh terkait penyebab kejadian.

 

Ning Lia juga menekankan agar proses pencarian penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab dilakukan melalui mekanisme pemeriksaan dan evaluasi yang objektif setelah kondisi para korban tertangani.

 

"Saat terjadi musibah, seharusnya tidak perlu mencari siapa yang salah terlebih dahulu, tetapi kita mencari siapa yang pertama kali harus diberikan pertolongan," tegasnya.

 

Kasus dugaan keracunan massal yang melibatkan ratusan santri tersebut menjadi perhatian serius terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam aspek keamanan dan kualitas pangan yang didistribusikan kepada penerima manfaat.

 

Baca Juga: Lia Istifhama Ucapkan Selamat Muktamar NU ke-35,Dorong Kemandirian dan Kontribusi Peradaban Dunia

Penelusuran terhadap penyebab kejadian dinilai penting untuk memastikan apakah terdapat persoalan dalam proses pengolahan, distribusi, penyimpanan, maupun penyajian makanan. Pemeriksaan tersebut juga diperlukan sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

 

Evaluasi terhadap sistem pelayanan pemenuhan gizi, termasuk mekanisme pengawasan dan pengendalian kualitas makanan di SPPG, menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

 

Di sisi lain, proses pemulihan para santri tetap menjadi fokus utama. Selain penanganan medis, dukungan keluarga, pihak pesantren, tenaga kesehatan, serta pendampingan psikologis diharapkan dapat membantu para korban kembali pulih dan menjalani aktivitas seperti sediakala.

 

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan santri, harus dibarengi dengan penerapan standar keamanan pangan yang ketat di setiap tahapan.

 

Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan orang, hasil pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai penyebab kejadian serta menjadi dasar perbaikan sistem agar keamanan pangan dalam program MBG semakin terjamin.(Red)

 

Editor : Redaksi

abadinews.id horizontal

Berita Lainnya

abadinews.id horizontal