abadinews.id, Surabaya — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menaruh harapan besar kepada kepengurusan baru Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jawa Timur periode 2026–2030. Kepengurusan anyar tersebut diharapkan mampu membawa perubahan signifikan sekaligus memutus tren prestasi karate Jawa Timur yang dalam beberapa edisi Pekan Olahraga Nasional (PON) belum mampu menunjukkan capaian maksimal.
Baca Juga: FORKI Jatim Bangkit! Tiga Medali Dibawa Pulang dari Kejurnas Karate 2026
Harapan tersebut disampaikan Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, seusai menghadiri pelantikan pengurus FORKI Jawa Timur periode 2026–2030 di Surabaya, Sabtu (15/8/2026). Pengukuhan kepengurusan baru dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar FORKI, Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto.
Menurut Nabil, persoalan prestasi karate Jawa Timur di ajang multievent nasional perlu menjadi perhatian serius pengurus baru. Ia mengingatkan bahwa dalam empat edisi PON terakhir, termasuk PON Aceh-Sumut 2024, kontingen karate Jawa Timur hanya mampu meraih maksimal dua medali emas.
Padahal, menurutnya, peluang Jawa Timur untuk mendulang medali seharusnya jauh lebih besar. Dengan total 17 nomor pertandingan yang diperebutkan, potensi perolehan medali emas masih terbuka lebar apabila pembinaan, persiapan, kompetisi, serta strategi pertandingan dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
“Relatif tidak sebanding dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan di setiap kejuaraan yang digelar di Jawa Timur,” ujar Nabil.
Catatan tersebut, lanjut dia, menjadi pekerjaan rumah besar bagi kepengurusan FORKI Jawa Timur yang baru. Terlebih, dukungan KONI Jawa Timur terhadap pembinaan cabang olahraga selama ini dinilai sudah cukup maksimal, baik dari sisi anggaran maupun fasilitas, termasuk melalui program Pusat Latihan Daerah (Puslatda).
Karena itu, Nabil menilai perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pola pembinaan karate di Jawa Timur. Evaluasi tidak hanya menyangkut aspek teknis kepelatihan dan kemampuan atlet, tetapi juga mencakup manajemen organisasi, sistem kompetisi, regenerasi atlet, hingga pola pengiriman atlet ke berbagai kejuaraan.
“Harus sering mengadakan event. Harus rutin mengirim atlet ke kejuaraan nasional dan internasional, bukan hanya di level kejurda. Minimal empat kali setahun agar jam terbang bertanding atlet terukur,” tegasnya.
Bagi Nabil, pengalaman bertanding menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk mental dan konsistensi atlet. Atlet yang hanya berlatih tanpa mendapatkan kesempatan bertanding secara rutin akan kesulitan mengukur perkembangan kemampuan ketika menghadapi lawan-lawan dengan karakter dan gaya bertanding yang berbeda.
Oleh sebab itu, FORKI Jawa Timur didorong membangun kalender kompetisi yang lebih aktif. Kejuaraan antarkabupaten dan antarkota, kejuaraan daerah, hingga partisipasi dalam kompetisi nasional dan internasional harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem pembinaan jangka panjang, bukan sekadar agenda insidental.
Nabil juga menyoroti capaian Jawa Timur pada PON Beladiri 2025. Dalam ajang tersebut, karate Jawa Timur hanya mampu menyumbangkan satu medali emas dan satu medali perak.
Catatan itu, menurutnya, semakin menegaskan perlunya pembenahan pola pembinaan. Prestasi pada kejuaraan besar harus menjadi tolok ukur untuk melihat apakah program latihan yang diterapkan benar-benar efektif atau masih memiliki kelemahan yang perlu diperbaiki.
KONI Jawa Timur tidak ingin karate hanya menjadi cabang olahraga dengan jumlah peserta yang besar dalam berbagai kejuaraan, tetapi minim kontribusi medali pada ajang multievent nasional.
“Jika hanya dapat dua emas dari 17 nomor, itu tidak mencerminkan potensi besar Jatim. Saya yakin, dengan kerja keras dan program tepat, FORKI Jatim bisa bangkit,” kata Nabil.
Ia juga meminta pengurus baru tidak terjebak pada orientasi kuantitas. Banyaknya atlet dan peserta dalam sebuah kejuaraan memang menjadi indikator positif dari sisi partisipasi, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kualitas pembinaan.
Karena itu, pendekatan "sport science " dinilai perlu semakin diperkuat. Pembinaan atlet harus dilakukan berdasarkan data dan kebutuhan individual, mulai dari kondisi fisik, teknik, taktik, psikologi, pemulihan, nutrisi, hingga evaluasi performa.
Dengan pendekatan tersebut, proses pembinaan diharapkan tidak lagi berjalan secara konvensional semata, melainkan mampu menyesuaikan perkembangan olahraga prestasi modern.
Selain persoalan teknis pembinaan, Nabil juga menekankan pentingnya mengubah stigma bahwa cabang olahraga combat, termasuk karate, selalu kurang menjanjikan bagi Jawa Timur dalam perolehan medali.
Menurutnya, stigma tersebut tidak boleh dibiarkan menjadi persepsi yang terus berulang. Sebaliknya, FORKI harus membuktikan melalui program yang terukur bahwa karate Jawa Timur mampu bersaing dan menjadi salah satu cabang olahraga andalan dalam mendulang medali bagi kontingen Jatim.
Pembuktian itu tidak dapat dilakukan hanya menjelang PON. Dibutuhkan proses panjang melalui pembinaan sejak usia dini, pencarian dan pemetaan bakat, kompetisi yang konsisten, peningkatan kualitas pelatih, serta sistem promosi atlet menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi.
“Stigma itu harus dipatahkan dengan kerja nyata dan program yang terstruktur,” tegas Nabil.
KONI Jawa Timur pun berharap kepengurusan FORKI yang baru mampu menciptakan ekosistem pembinaan yang kompetitif dari tingkat usia dini hingga senior. Setiap jenjang pembinaan harus memiliki target dan indikator yang jelas sehingga perkembangan atlet dapat dipantau secara berkesinambungan.
Kepengurusan baru FORKI Jawa Timur periode 2026–2030 juga diharapkan tidak sekadar melakukan pergantian struktur organisasi, tetapi benar-benar menghadirkan arah baru dalam pembinaan karate.
Meski belum memberikan pernyataan resmi mengenai program kerja secara keseluruhan, sejumlah sumber internal menyebut kepengurusan baru tengah menyiapkan roadmap pembinaan untuk empat tahun ke depan.
Strategi yang disiapkan antara lain pemusatan latihan terpadu, peningkatan kerja sama dengan pelatih nasional, serta penguatan fasilitas dan program sparing antardaerah. Pola tersebut diharapkan dapat memperbanyak kesempatan atlet untuk menghadapi lawan dengan karakter permainan yang berbeda.
Program sparing juga dinilai penting untuk mengukur perkembangan atlet sebelum tampil di kejuaraan resmi. Dengan semakin banyaknya pertandingan uji coba, pelatih dapat memperoleh data yang lebih akurat mengenai kekuatan dan kelemahan atlet sekaligus menentukan evaluasi yang diperlukan.
Di sisi lain, kerja sama dengan pelatih nasional diharapkan mampu meningkatkan kualitas metode latihan serta membuka transfer pengetahuan bagi pelatih-pelatih daerah. Dengan demikian, peningkatan kualitas tidak hanya terjadi pada atlet yang masuk dalam program elite, tetapi juga menyebar hingga ke lapisan pembinaan di daerah.
Pelantikan pengurus baru FORKI Jawa Timur menjadi momentum penting untuk membangun kembali kekuatan karate Jawa Timur di tingkat nasional.
Selama ini, karate Jatim kerap dipandang sebagai tim yang berada di papan tengah dalam persaingan nasional. Kondisi tersebut tentu belum mencerminkan besarnya potensi sumber daya manusia, jumlah klub, atlet, pelatih, maupun aktivitas kejuaraan yang berkembang di Jawa Timur.
Karena itu, kepengurusan periode 2026–2030 diharapkan mampu menjadikan empat tahun ke depan sebagai periode pembenahan sekaligus pembuktian.
KONI Jawa Timur menegaskan dukungannya terhadap upaya peningkatan prestasi FORKI. Namun, dukungan tersebut harus diikuti dengan keseriusan organisasi dalam menjalankan program pembinaan yang terukur, konsisten, dan berorientasi pada prestasi.
Targetnya bukan sekadar meningkatkan jumlah peserta atau memperbanyak kejuaraan, melainkan melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di level nasional dan internasional serta menjadi andalan Jawa Timur pada PON mendatang.
Dengan dukungan KONI Jawa Timur, kepemimpinan baru FORKI Jatim, serta keterlibatan aktif pengurus daerah, pelatih, klub, dan para atlet, publik kini menanti pembuktian di arena.
Harapannya, tren perolehan medali yang selama beberapa PON terakhir masih terbatas dapat segera diputus. Karate Jawa Timur ditantang untuk tidak lagi sekadar menjadi peserta, tetapi tampil sebagai kekuatan utama yang mampu memperebutkan medali sebanyak-banyaknya.
Pelantikan pengurus baru pun diharapkan menjadi titik awal perubahan tersebut. Empat tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk membuktikan apakah roadmap pembinaan yang disusun mampu mengubah wajah karate Jawa Timur dan mengantarkannya menuju prestasi yang lebih gemilang di PON berikutnya.(Red)
Editor : Redaksi