Armuji Terpilih Aklamasi Pimpin PTMSI Surabaya, Targetkan Emas Porprov 2027

avatar abadinews.id

abadinews.id, Surabaya – Musyawarah Kota Luar Biasa (Muskotlub) 2026 Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Surabaya menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kejayaan tenis meja di Kota Pahlawan. Mengusung tema “Emas Tenis Meja untuk Surabaya Selalu Juara”, forum organisasi tersebut menegaskan komitmen untuk melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari tata kelola organisasi, sistem pembinaan atlet, transparansi seleksi hingga optimalisasi sarana dan prasarana.


Muskotlub yang digelar Sabtu (8/8/2026) itu dihadiri sembilan PTM se-Surabaya. Dalam forum tersebut, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji  terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PTMSI Kota Surabaya periode 2026 sampai 2030.

Baca Juga: Bursa Ketua PTMSI Surabaya Dibuka, Calon Wajib Kantongi Dukungan Minimal 30 Persen


Terpilihnya Armuji diharapkan menjadi titik awal konsolidasi seluruh kekuatan tenis meja Surabaya untuk menghadapi agenda besar olahraga daerah, khususnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.


Muskotlub tidak sekadar dimaknai sebagai pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum untuk membangun sistem pembinaan yang lebih sehat, terbuka dan berorientasi prestasi. PTMSI Surabaya dituntut mampu mengoptimalkan potensi atlet, klub, pelatih serta fasilitas yang sebenarnya sudah tersedia cukup lengkap di Kota Surabaya.


Ketua Panitia Muskotlub PTMSI Kota Surabaya, Samsurin,mengatakan bahwa Surabaya sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan utama tenis meja Jawa Timur.


Menurutnya, sumber daya manusia, atlet potensial, klub maupun fasilitas olahraga sudah tersedia. Persoalan yang harus diselesaikan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara maksimal dan terintegrasi untuk kepentingan prestasi Kota Surabaya.


“Secara khusus saya berterima kasih kepada Ketua PTMSI Jawa Timur yang telah memberikan amanah kepada kami untuk menyelenggarakan Muskotlub ini. Mudah-mudahan Muskotlub ini menjadi awal yang baik untuk membangun kembali tenis meja Surabaya,” ujar Samsurin.


Ia juga mendorong agar seluruh potensi tenis meja di Surabaya dirangkul dalam satu sistem pembinaan. Samsurin bahkan merekomendasikan kepada ketua terpilih agar tiga PTM yang belum menjadi anggota resmi PTMSI Kota Surabaya diberikan ruang untuk bergabung.


“Saya merekomendasikan kepada ketua terpilih nanti agar tiga PTM yang belum menjadi anggota resmi PTMSI dapat diterima. Semangat mereka untuk membangun tenis meja di Kota Surabaya harus kita apresiasi,” tegasnya.


Menurut Samsurin, keberadaan klub-klub tersebut merupakan bagian dari kekuatan tenis meja Surabaya yang tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri-sendiri di luar sistem organisasi.


Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah atlet potensial yang berasal dari Surabaya, namun saat ini memperkuat daerah lain. Kondisi tersebut dinilai harus menjadi perhatian serius kepengurusan baru.


“Modal kita sudah ada semua. Sarana dan prasarana juga sudah ada. Tinggal kita membenahi sedikit. Atlet-atlet yang potensinya berasal dari Surabaya dan saat ini berada di luar Kota Surabaya, saya berharap bisa kita pulangkan dan kembali membela Surabaya,” katanya.


Samsurin mengakui bahwa dalam pelaksanaan Muskotlub masih terdapat berbagai kekurangan. Namun, ia berharap seluruh pihak tidak menjadikan dinamika tersebut sebagai penghalang untuk membangun masa depan tenis meja Surabaya.


“Namanya juga musyawarah luar biasa, tentu ada kejadian-kejadian luar biasa. Saya selaku ketua panitia mohon maaf apabila dalam persiapan maupun pelaksanaan masih terdapat banyak kekurangan. Yang terpenting, setelah ini kita nikmati bersama hasilnya dan kita bangun tenis meja Surabaya secara lebih baik,” tuturnya.

 

Dukungan terhadap kebangkitan tenis meja Surabaya juga disampaikan Ketua I KONI kota Surabaya, Rinto Ia memberikan apresiasi atas pelaksanaan Muskotlub sekaligus menegaskan bahwa tenis meja harus menjadi salah satu cabang olahraga yang memberikan kontribusi medali emas bagi kontingen Surabaya pada Porprov Jawa Timur 2027.


Menurut Rinto, Surabaya memiliki target besar pada Porprov mendatang. Kota Pahlawan ditargetkan mempertahankan dominasinya sebagai salah satu kekuatan utama olahraga Jawa Timur dengan sasaran sekitar 250 medali emas.


Karena itu, seluruh cabang olahraga, termasuk tenis meja, harus melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari.


“Kami dari KONI Surabaya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ke depan, PTMSI harus menjadi satu armada atau satu kekuatan baru yang mampu berkontribusi memberikan emas untuk Surabaya pada Porprov 2027,” kata Rinto.


Ia juga meminta seluruh fasilitas tenis meja yang tersedia di Surabaya dimanfaatkan secara maksimal untuk pembinaan atlet.


Rinto sependapat dengan gagasan mengembalikan atlet-atlet potensial Surabaya yang saat ini berada di luar daerah.


“Kalau ada potensi yang masih berada di luar Surabaya, mari kita tarik kembali ke dalam. Menarik kembali potensi itu jauh lebih indah daripada kita harus mencari keluar,” ujarnya.


Ia berharap kepengurusan baru PTMSI Kota Surabaya segera menyusun program pembinaan yang terukur, berkelanjutan dan berorientasi pada prestasi.

 

Dukungan juga disampaikan jajaran PTMSI Jawa Timur yang diwakili Bambang . Ia menilai Surabaya memiliki posisi strategis dalam perkembangan tenis meja Jawa Timur.


menurutnya, semestinya menjadi barometer pembinaan tenis meja di Jawa Timur. Namun, dalam beberapa periode terakhir, potensi atlet Surabaya justru banyak berpindah dan memperkuat daerah lain.


“Surabaya ini harus menjadi acuan di Jawa Timur. Kalau Porprov Jawa Timur berjalan, kita berharap kekuatan tenis meja salah satunya berasal dari Surabaya. Tetapi selama ini Surabaya jarang sekali menang. Padahal potensi luar biasa semuanya sudah dimiliki,” kata Bambang.


Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan potensi, melainkan bagaimana potensi tersebut dipertahankan, dibina dan diberikan ruang untuk berkembang.


“Potensi itu ada, tetapi tiba-tiba melesat ke tempat lain. Inilah yang harus kita balik. Mari kita sama-sama berjuang untuk mengembalikan potensi tersebut,” ujarnya.


Bambang juga mengaku memiliki ikatan emosional dengan Surabaya. Karena itu, ia berharap kebangkitan tenis meja Kota Pahlawan sekaligus menjadi bagian dari kebangkitan tenis meja Jawa Timur.


“Saya memang di Jawa Timur, tetapi saya juga asli Surabaya. Kalau Surabaya lepas dalam pertandingan dan tidak ada atlet yang membawa nama Surabaya, rasanya sakit juga. Kami dari Jawa Timur tentu berharap Surabaya menjadi barometer, bahkan bisa menjadi barometer nasional,” katanya.


Ia menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh berhenti pada target Porprov. Atlet terbaik Surabaya harus dipersiapkan untuk menembus level yang lebih tinggi, termasuk membawa nama Jawa Timur dan Indonesia.


“Kalau kita bicara jauh ke depan, tentu kita ingin melihat atlet kita menyanyikan Indonesia Raya di Asian Games, bahkan kalau memungkinkan di Olimpiade. Itu yang harus menjadi cita-cita bersama,” tandasnya.


Sementara itu, Ketua Terpilih PTMSI Kota Surabaya melalui mekanisme aklamasi, Armuji, menegaskan bahwa pembenahan sistem seleksi atlet menjadi salah satu pekerjaan rumah utama kepengurusan baru.

Baca Juga: Samsurin Tuntaskan Verifikasi Klub PTMSI Surabaya, Fondasi Baru Menuju Porprov Jatim 2027


Armuji menyoroti adanya atlet-atlet Surabaya yang memiliki prestasi, namun akhirnya memperkuat daerah lain karena tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam sistem seleksi maupun pembinaan.


Menurutnya, olahraga prestasi harus dibangun berdasarkan kemampuan dan prestasi atlet, bukan kedekatan maupun kepentingan kelompok.


“Kalau kemarin ada pengurus yang tidak bisa mengakomodasi semua PTMSI yang ada di Surabaya, akhirnya atlet-atlet yang punya prestasi tidak terekrut. Padahal mereka adalah insan olahraga yang ingin berkarya lebih tinggi lagi,” ungkap Armuji.


Ia menegaskan bahwa tenis meja merupakan olahraga prestasi yang hasilnya dapat diukur secara objektif. Karena itu, proses seleksi juga harus menggunakan parameter yang jelas.


“Olahraga ini olahraga prestasi. Menang atau kalah bisa dilihat secara kasat mata. Kalau menang berarti mereka bermain lebih bagus. Ini yang harus menjadi dasar,” ujarnya.


Armuji menyebut persoalan tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.


Ia mengungkapkan bahwa sejumlah atlet yang sejak kecil berlatih dan berkembang di Surabaya justru kemudian direkrut daerah lain seperti Solo, Yogyakarta maupun Malang karena mendapatkan kesempatan pembinaan dan kompetisi yang lebih terbuka.


“Banyak atlet dari Surabaya yang akhirnya diambil daerah lain. Mereka punya potensi, tetapi karena tidak mendapatkan kesempatan dalam seleksi, akhirnya mereka memilih atau direkrut daerah lain. Ini menjadi PR kita,” tegasnya.


Karena itu, Armuji memastikan sistem seleksi ke depan harus dilakukan secara transparan dan objektif.


“Nanti seleksi harus benar-benar transparan, benar-benar objektif. Semua PTMSI yang terdaftar harus diikutkan. Jangan sampai ada atlet berprestasi yang tidak mendapatkan kesempatan hanya karena persoalan organisasi,” katanya.

 

Armuji juga menyoroti perkembangan tenis meja yang semakin memasyarakat di Surabaya. Menurutnya, hampir di berbagai kawasan permukiman hingga tingkat RW terdapat aktivitas tenis meja yang melibatkan anak-anak maupun masyarakat umum.


“Sekarang pingpong atau tenis meja sudah menjadi olahraga yang memasyarakat. Di balik RW pun banyak kegiatan tenis meja, baik yang diikuti kelompok anak-anak maupun masyarakat umum. Ini luar biasa,” jelasnya.


Kondisi tersebut, menurut Armuji, merupakan modal penting untuk membangun sistem pembinaan atlet sejak usia dini.


Namun, tidak seluruh pemain harus diarahkan menjadi atlet prestasi. PTMSI perlu memiliki sistem pemetaan untuk menemukan pemain yang benar-benar memiliki potensi meraih prestasi.


“Dari banyaknya pemain yang ada, kita harus mencari siapa yang memang memiliki prestasi bagus dan bisa diharapkan mendapatkan medali. Mereka inilah yang harus kita bina secara serius,” katanya.


Selain kemampuan teknis, Armuji menekankan pentingnya memperhatikan pendidikan atlet. Menurutnya, jangan sampai atlet berprestasi harus memilih antara pendidikan dan karier olahraga.

Baca Juga: Usai Ditunjuk Jadi Caretaker, Samsurin Bergerak Cepat Benahi PTMSI Surabaya


“Kalau kita serius, saya yakin hasilnya akan luar biasa. Kita punya fasilitas, kita punya anak-anak, kita punya potensi. Tinggal bagaimana kita memperhatikan atlet dan orang tua mereka, termasuk persoalan pendidikan,” ujarnya.


Ia juga meminta jajaran PTMSI membangun komunikasi yang baik dengan orang tua atlet karena dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan atlet menuju prestasi.

 

Armuji memastikan Pemerintah Kota Surabaya pada prinsipnya siap memberikan dukungan terhadap pembinaan olahraga prestasi.


Terlebih, Surabaya memiliki fasilitas olahraga yang relatif lengkap. Fasilitas tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk mencetak atlet-atlet berprestasi.


“Kita memiliki fasilitas yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan baik. Pemerintah kota tentu akan memberikan perhatian terhadap olahraga prestasi,” katanya.


Ia optimistis peluang mengembalikan kejayaan tenis meja Surabaya masih terbuka lebar.


Dengan kepengurusan baru, sistem seleksi transparan, pembinaan berjenjang, dukungan KONI dan pemerintah kota, serta keterlibatan seluruh PTM, target meraih emas pada Porprov Jawa Timur 2027 bukan sesuatu yang mustahil.


“Kesempatan masih ada dan kesempatan pasti ada. Yang penting kita harus memaksimalkan seluruh potensi yang kita miliki,” tegasnya.

 


Terpilihnya Armuji secara aklamasi menjadi babak baru bagi PTMSI Kota Surabaya. Kepengurusan baru diharapkan mampu menghadirkan perubahan signifikan terhadap sistem pembinaan tenis meja di Kota Pahlawan.


Muskotlub sekaligus menjadi momentum untuk menyatukan seluruh elemen tenis meja Surabaya, mulai dari pengurus, PTM, pelatih, atlet, orang tua, KONI, pemerintah kota hingga masyarakat.


Slogan “Emas Tenis Meja untuk Surabaya Selalu Juara” kini dituntut untuk diterjemahkan menjadi kerja nyata.


Seleksi yang transparan dan objektif, pembinaan berkelanjutan, pemanfaatan fasilitas secara optimal, penguatan PTM, perhatian terhadap pendidikan atlet, serta upaya mengembalikan atlet-atlet potensial Surabaya menjadi sejumlah pekerjaan yang harus segera dilakukan.


Target Porprov Jawa Timur 2027 juga tidak boleh hanya menjadi slogan. PTMSI Surabaya dituntut bergerak cepat karena persaingan antar daerah semakin ketat.


Emas Porprov membutuhkan atlet berkualitas. Namun, atlet berkualitas tidak akan lahir tanpa sistem pembinaan yang sehat, organisasi yang solid, kompetisi yang terbuka dan dukungan seluruh pemangku kepentingan.


Kini, bola berada di tangan kepengurusan baru PTMSI Kota Surabaya. Jika seluruh potensi yang selama ini tercecer mampu disatukan, bukan tidak mungkin tenis meja kembali menjadi salah satu kekuatan olahraga Kota Pahlawan dan membawa Surabaya kembali ke puncak prestasi Jawa Timur.(Red)

Editor : Redaksi

abadinews.id horizontal

Berita Lainnya

abadinews.id horizontal