abadinews.id,Surabaya – Upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen strategis. Komitmen ini mengemuka dalam sebuah seminar yang menghadirkan perwakilan pemerintah, akademisi, aparat penegak hukum, organisasi perempuan, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Baca Juga: Aries Agung Paewai Pimpin Penutupan Taruna Brawijaya Jatim, Tekankan Lanjutkan Pendidikan
Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus forum strategis untuk menyatukan perspektif, memperkuat koordinasi, dan merumuskan langkah konkret dalam menghadapi persoalan kekerasan seksual. Isu yang dibahas tidak hanya menyentuh aspek penanganan kasus, tetapi juga pencegahan, perlindungan korban, hingga penguatan regulasi dan sistem pelaporan.
Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, para peserta menyoroti bahwa kekerasan seksual kerap terjadi dalam relasi kuasa yang timpang, baik di lingkungan pendidikan, dunia kerja, maupun ruang sosial lainnya. Kondisi ini sering kali membuat korban berada dalam posisi rentan dan sulit untuk melapor, sehingga diperlukan sistem yang berpihak kepada korban serta menjamin keamanan dan kerahasiaan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, dalam paparannya menegaskan bahwa dunia pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Ia menilai bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Tidak hanya sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter, penanaman nilai kemanusiaan, serta perlindungan terhadap hak-hak anak,” ujarnya.
Menurutnya, upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak dapat dilakukan secara sepihak. Diperlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen, mulai dari tenaga pendidik, orang tua, hingga peserta didik itu sendiri. Edukasi mengenai kekerasan seksual, batasan interaksi yang sehat, serta mekanisme pelaporan harus terus diperkuat agar setiap individu memiliki pemahaman dan keberanian untuk bertindak.
Baca Juga: Aries Agung Paewai Tinjau Langsung Karya Siswa di Rolas Art Festival
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sistem pengawasan yang efektif di lingkungan pendidikan. Hal ini mencakup penerapan kebijakan yang tegas terhadap pelaku, penyediaan layanan pendampingan bagi korban, serta penguatan peran satuan tugas atau unit khusus dalam menangani kasus kekerasan.
Selain itu, para narasumber juga menyoroti pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menangani kekerasan seksual. Aparat penegak hukum, lembaga layanan sosial, tenaga kesehatan, hingga organisasi masyarakat sipil harus bekerja secara terintegrasi agar proses penanganan korban dapat berjalan optimal, mulai dari pelaporan hingga pemulihan.
Baca Juga: Pendidikan Inklusif Jadi Prioritas, Kadindik Jatim Monitoring SLB Negeri 4 Blitar
Seminar ini juga menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah paling krusial. Kampanye kesadaran publik, pendidikan berbasis nilai kesetaraan, serta penguatan regulasi yang melindungi korban menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kekerasan seksual.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan lahir komitmen bersama yang lebih kuat serta langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menjadi fondasi dalam memperkuat sistem perlindungan terhadap individu dari kekerasan seksual di berbagai lini kehidupan.
Ke depan, sinergi antar sektor diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut dalam bentuk kebijakan konkret, program berkelanjutan, serta aksi nyata di lapangan. Dengan demikian, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Editor : Redaksi