Pameran Keris Tosan Aji Nusantara Hadirkan Diskusi "Perspektif Komunikasi Perkerisan Indonesia"

avatar abadinews.id

Surabaya,abadinews.id - Pameran Keris Tosan Aji Nusantara yang diselenggarakan di Gedung Balai Pemuda Surabaya menghadirkan Diskusi Santai bertema "Perspektif Komunikasi Perkerisan Indonesia "dengan narasumber Prof. Dr. Burhan Bungin Guru Besar Ilmu Komunikasi, dan Mas Agung Wismu, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Acara ini mendapat respons positif dari masyarakat, budayawan, serta para pecinta keris.Kamis(20/11/25)


Aspek utama perspektif komunikasi perkerisan Indonesia merupakan 

Baca Juga: Pagelaran Budaya Tosan Aji Nusantara Resmi Dibuka, Pamerkan Keris Langka dan Gelar Lelang Pusaka

Komunikasi Simbolik: Setiap elemen keris – bentuk bilah (lurus atau berliku), pamor (pola lipatan besi), dapur (bentuk fisik), hingga kelengkapan lainnya seperti ganja dan warangka – memiliki makna simbolis tertentu. Simbol-simbol ini berfungsi sebagai kode yang dipahami dalam konteks budaya masyarakat pemiliknya (misalnya, masyarakat Jawa), mengkomunikasikan identitas, status, atau harapan tertentu.

 

Dalam paparannya, Prof. Dr. Burhan Bungin menjelaskan bahwa keris Indonesia merupakan media komunikasi non-verbal yang sangat kaya akan simbol, nilai filosofis, serta identitas budaya masyarakat Nusantara. Menurutnya, keris berfungsi sebagai teks budaya yang menyampaikan pesan mengenai status sosial, nilai kehidupan, spiritualitas, hingga sejarah pemiliknya.


“Setiap elemen keris—mulai dari bentuk bilah, pamor, dapur, ganja hingga warangka—memiliki simbol dan makna tertentu. Simbol-simbol ini menjadi kode budaya yang mencerminkan identitas dan harapan pemiliknya,” ujarnya.

Baca Juga: Pameran Pusaka Tosan Aji Digelar di Balai Pemuda Surabaya, Hadirkan Keris Pusaka Milik Presiden


Sementara itu, Mas Agung Wismu, Direktur LSP, menekankan bahwa keris juga menjadi sarana transmisi nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi. Filosofi yang terkandung di dalam keris menggambarkan proses kehidupan manusia serta ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


“Kepemilikan dan cara mengenakan keris merupakan bentuk komunikasi non-verbal mengenai jati diri, legitimasi jabatan, dan peran sosial seseorang dalam masyarakat tradisional,” jelas Agung. Ia turut menambahkan bahwa berbagai strategi komunikasi modern, termasuk media digital dan pameran, kini digunakan untuk pelestarian budaya perkerisan dan edukasi generasi muda.


Ketua Yayasan Penyelenggara Pameran Tosan Aji, Dr. H. Andi Budi Sulistijanto, S.H., M.I.Kom, menyampaikan bahwa keris memiliki posisi penting sebagai simbol identitas budaya bangsa Indonesia. Sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui UNESCO, keris menyatukan seni, teknologi, dan filosofi yang memperkuat rasa kebangsaan.

Baca Juga: Pagelaran Budaya Tosan Aji Nusantara 2025 Tampilkan Ragam Keris Nusantara di Surabaya


“Keris adalah artefak hidup yang terus terlibat dalam dialog budaya, menghubungkan masa lalu dengan masa kini,” ujar Gus Andi.


Di tempat yang sama, Yudi, salah satu edukator keris, menjelaskan bahwa tiap periode sejarah—mulai era Majapahit, Mataraman, hingga Singosari—memiliki karakter dan pakem keris yang berbeda. Menurutnya, perubahan corak tersebut dipengaruhi oleh kondisi politik, budaya, serta perkembangan teknologi tempa pada masing-masing masa.”

Pameran Keris Tosan Aji Nusantara diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya bagi masyarakat luas, serta memperkuat kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.(Red)

Editor : Redaksi

abadinews.id horizontal

Berita Lainnya

abadinews.id horizontal