abadinews.id,Surabaya– Dewan Pengurus Daerah Indonesian Hotel General Manager (IHGM) Jawa Timur periode 2026–2029 menggelar kegiatan perdana berupa "Workshop AI for Hospitality" yang dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus baru.Selasa(23/6),di Ballroom Morazen Hotel Surabaya.
Kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan kembali organisasi yang sempat vakum dan kini hadir dengan semangat baru untuk menjawab berbagai tantangan industri perhotelan yang semakin kompleks.
Mengusung tema “Revolutionizing Work, Exceeding Expectations”, kegiatan ini menghadirkan praktisi dan pakar teknologi digital yang membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam industri hospitality. Workshop ini bertujuan memberikan pemahaman praktis kepada para pelaku industri mengenai penerapan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat strategi pemasaran, mengoptimalkan pendapatan, serta menciptakan pengalaman tamu yang lebih personal dan berkualitas.
Wakil Ketua DPD IHGM Jawa Timur, Irawan, menjelaskan bahwa kepengurusan yang baru terbentuk sekitar dua bulan lalu tersebut secara resmi baru dikukuhkan pada hari pelaksanaan workshop. Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri hospitality saat ini semakin berat, baik dari faktor internal maupun eksternal.
"Kami berada di industri yang dari tahun ke tahun tantangannya semakin kompleks. Banyak hal yang sudah kami alami, mulai dari pandemi beberapa tahun lalu hingga berbagai kebijakan pemerintah yang pada dasarnya memiliki tujuan baik, namun dalam praktiknya terkadang menimbulkan trade off yang cukup dirasakan oleh dunia perhotelan," ujarnya.
Karena itu, pihaknya memilih mengangkat tema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai fokus utama dalam kegiatan perdana tersebut. Menurut Irawan, integrasi AI saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah menjadi instrumen penting yang wajib dikuasai para pelaku industri pariwisata dan perhotelan.
"AI bukan ancaman, justru menjadi jawaban atas tingginya biaya operasional yang selama ini terus meningkat. Dengan pemanfaatan AI, perusahaan dapat melakukan efisiensi dan mereduksi biaya operasional sehingga bisnis tetap dapat berjalan secara sehat," katanya.
Ia memberikan contoh nyata yang terjadi di industri hotel. Sepuluh tahun lalu, ketika Upah Minimum Kota (UMK) di Surabaya masih berada di kisaran Rp3,2 juta, harga kamar hotel dapat dijual sekitar Rp750 ribu per malam. Namun saat ini, ketika UMK sudah meningkat hingga sekitar Rp5,2 juta, harga kamar justru relatif stagnan bahkan cenderung menurun.
"Artinya, kenaikan pendapatan tidak sejalan dengan kenaikan biaya operasional. Bahkan kecenderungannya berbanding terbalik. Inilah yang harus kita jawab bersama melalui inovasi dan efisiensi, salah satunya dengan pemanfaatan AI," jelasnya.
Sebanyak lebih dari 100 orang peserta yang terdiri dari pelaku industri perhotelan dari wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Malang Raya mengikuti kegiatan ini. Antusiasme peserta menunjukkan semakin tingginya kebutuhan industri perhotelan terhadap pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari strategi bisnis yang berkelanjutan.
Pada kegiatan tersebut menghadirkan Irfan Arsandi, Founder & CEO WIT.ID, yang membagikan wawasan mengenai implementasi AI dalam operasional hotel, peningkatan produktivitas tim, analisis data pelanggan, hingga strategi peningkatan pendapatan melalui pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Selain menjadi sarana peningkatan kompetensi, kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi kepengurusan baru IHGM DPD Jawa Timur untuk memperkuat sinergi antar pelaku industri dalam menghadapi perubahan dan tantangan bisnis yang semakin dinamis.
Selain membahas transformasi digital, Irawan juga menyoroti dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang menurutnya sangat dirasakan oleh industri perhotelan dalam dua tahun terakhir.
"Kebijakan efisiensi dari pemerintah memang sangat memukul sektor pariwisata dan perhotelan. Omzet banyak hotel mengalami penurunan. Dampaknya bukan hanya pada hotel, tetapi juga terhadap tenaga kerja, supplier, hingga usaha-usaha pendukung lainnya," ungkapnya.
Ia menjelaskan, sejumlah hotel terpaksa mengurangi penggunaan tenaga kerja harian atau casual worker. Jika sebelumnya mereka bisa bekerja 15 hingga 19 hari dalam sebulan, kini sebagian hanya mendapat panggilan kerja sekitar tujuh hari.
Menurutnya, sektor perhotelan memiliki efek berganda yang sangat besar terhadap perekonomian. Ketika hotel ramai, maka banyak sektor lain yang ikut bergerak, mulai dari pemasok bahan makanan, jasa pendukung, hingga sektor hunian seperti rumah kos.
"Ketika hotel ramai, supplier hidup, pelayanan kepada tamu meningkat, karyawan yang tinggal di kos juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Sebaliknya, ketika aktivitas hotel melambat, perputaran uang di masyarakat juga ikut mengecil," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Irawan mengungkapkan bahwa IHGM Jawa Timur saat ini sedang melakukan pendataan ulang anggota. Sebab, organisasi tersebut sempat "tertidur" selama beberapa tahun sehingga perlu dilakukan revitalisasi organisasi.
"Ini bisa dikatakan sebagai kelahiran kembali IHGM DPD Jawa Timur. Di grup WhatsApp sebenarnya masih ada sekitar 50 sampai 60 anggota, tetapi karena perjalanan waktu ada yang sudah berpindah keluar Jawa Timur, ada juga yang masuk ke Jawa Timur. Ini menjadi tugas kami untuk menginventarisasi kembali jumlah anggota yang aktif," jelasnya.
Sebagai pengurus baru, dirinya bersama Ketua DPD IHGM Jawa Timur periode 2026–2029, Ratna Dwi Rachmawati , berharap pemerintah dapat terus mendukung industri perhotelan melalui kebijakan yang lebih berpihak kepada keberlangsungan dunia usaha.
"Kami berharap pemerintah tetap dapat menjalankan berbagai program dan kegiatan di hotel-hotel, karena dampak ekonominya sangat besar. Kebijakan yang ada saat ini kami harapkan dapat segera dipertimbangkan kembali sehingga dunia perhotelan dan pariwisata dapat kembali tumbuh dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat," pungkas Irawan.(Red)
Editor : Redaksi