abadinews.id, Surabaya – Anggota DPR RI Lia Istifhama mengajak generasi muda, perempuan, dan pemerintah memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan demokrasi yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Ia menegaskan, pembangunan ekonomi dan kebijakan politik harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Baca juga: Arifah Fauzi Raih Perempuan Berbakti 2026, Ning Lia Soroti Dampak Pengabdian
Pesan tersebut disampaikan Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, dalam talk show bertajuk “Masa Depan Green Democracy: Kolaborasi Pemuda, Perempuan, dan Pemerintah dalam Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar Gerakan Aksi Sosial Pemuda (GAS Pemuda) di EXO Mangrove Surabaya, Minggu (25/10).
Dalam forum tersebut, Ning Lia menyoroti pentingnya mengubah paradigma pembangunan yang selama ini cenderung menempatkan keuntungan ekonomi sebagai orientasi utama. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan kelestarian alam, karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa praktik greedy economics atau ekonomi serakah yang hanya berorientasi pada keuntungan tanpa memperhitungkan dampak ekologis perlu ditinggalkan. Kerusakan hutan, degradasi lingkungan, dan ancaman perubahan iklim menjadi pengingat bahwa eksploitasi sumber daya alam harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap keberlanjutan ekosistem.
“Bisnis jangan lagi business as usual, tetapi harus menjadi _business as ecological_. Begitu juga politik, bukan hanya political as usua, melainkan politik yang berpihak pada ekologi,” tegas Ning Lia.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya tantangan pembangunan berkelanjutan. Dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga daya dukung lingkungan.
Ning Lia menilai, konsep green democracy atau demokrasi hijau perlu menjadi salah satu landasan dalam merumuskan kebijakan publik. Demokrasi, kata dia, tidak cukup hanya menjamin partisipasi masyarakat dalam proses politik, tetapi juga perlu memastikan bahwa keputusan yang diambil memperhatikan kepentingan ekologis dan keberlangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, pemerintah memiliki peran strategis untuk memastikan setiap kebijakan pembangunan mempertimbangkan dampak lingkungan. Sementara itu, masyarakat, termasuk perempuan dan generasi muda, perlu diberi ruang untuk terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan program pelestarian alam.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam membangun kesadaran ekologis sejak dini. Menurutnya, kepedulian anak muda, termasuk generasi Alpha atau Gen Alpha, terhadap perubahan iklim dan masa depan bumi merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat.
Aksi penanaman mangrove, lanjut Ning Lia, menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kegiatan tersebut bukan sekadar menanam bibit, melainkan juga membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya ekosistem pesisir bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan alam.
Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir, membantu mengurangi dampak abrasi, serta mendukung keberlangsungan berbagai jenis biota. Karena itu, upaya rehabilitasi mangrove perlu dilakukan secara konsisten dan disertai edukasi agar masyarakat memahami pentingnya menjaga serta merawat ekosistem tersebut.
Ning Lia turut mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan berpotensi memunculkan persoalan yang lebih luas, termasuk ancaman krisis pangan dan keterbatasan akses terhadap air bersih. Ketika sumber daya alam tidak dikelola secara bijaksana, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya memperkuat green integrity atau integritas lingkungan. Prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam, memperkuat tata kelola sumber daya, serta memastikan pembangunan tidak mengabaikan kepentingan generasi mendatang.
Menurut Ning Lia, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar gagasan demokrasi hijau tidak berhenti sebagai wacana. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung perlindungan lingkungan, dunia usaha perlu menerapkan praktik yang lebih bertanggung jawab, sedangkan masyarakat dan generasi muda dapat mengambil peran melalui berbagai gerakan nyata di tingkat lokal.
Baca juga: Serap Aspirasi Sektor Perbankan, Ning Lia Koordinasi dengan Pimpinan Bank Jatim
Sementara itu, Pendiri sekaligus Ketua Umum GAS Pemuda, Charlie Haryono Teguh, menegaskan komitmen organisasinya untuk menjadikan pemuda sebagai pelaku perubahan sosial di tengah masyarakat.
Memasuki usia pertamanya, GAS Pemuda mengusung semangat “Merajut Kepedulian, Menggerakkan Kebaikan”. Semangat tersebut menjadi landasan organisasi dalam mengembangkan kegiatan sosial yang tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap persoalan lingkungan.
Selama satu tahun terakhir, GAS Pemuda telah menjalankan sejumlah kegiatan sosial, mulai dari penyaluran paket sembako hingga pembagian 1.000 paket makanan gratis bagi warga prasejahtera di Surabaya.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat solidaritas sosial dan menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam perkembangannya, GAS Pemuda juga memperluas ruang gerak dengan memasukkan isu lingkungan sebagai salah satu fokus kegiatan.
Pada peringatan hari jadinya, organisasi tersebut menggelar kegiatan penanaman mangrove yang disertai seminar literasi lingkungan bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, GAS Pemuda berupaya menghubungkan aksi sosial dengan edukasi dan kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem.
Charlie berharap dukungan dari pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak lainnya dapat menjaga konsistensi GAS Pemuda dalam menjalankan kegiatan sosial serta pelestarian lingkungan.
Menurutnya, gerakan pemuda akan memiliki dampak yang lebih luas apabila didukung kolaborasi yang berkelanjutan. Dengan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, aksi sosial dan lingkungan diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat nyata.
Baca juga: Abadinews.id Sambut Kepulangan Ning Lia Istifhama, Doa dan Harapan Mengiringi Hajjah Mabrurah
Talk show dan aksi penanaman mangrove yang digelar GAS Pemuda menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan tentang demokrasi, pembangunan berkelanjutan, dan tanggung jawab ekologis.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya menempatkan lingkungan sebagai bagian integral dari proses pembangunan. Pertumbuhan ekonomi, kebijakan politik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu berjalan dengan tetap memperhatikan daya dukung alam.
Dalam kerangka _green democracy_, partisipasi publik menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensinya bagi masa depan.
Perempuan dan generasi muda memiliki ruang strategis dalam proses tersebut, baik melalui partisipasi dalam perumusan kebijakan, penguatan edukasi lingkungan, maupun keterlibatan langsung dalam aksi konservasi. Sementara itu, pemerintah berperan dalam membangun kerangka regulasi dan program yang mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjaga kelestarian alam membutuhkan kerja bersama yang tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Diperlukan komitmen jangka panjang, kebijakan yang konsisten, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat agar upaya perlindungan lingkungan dapat memberikan hasil nyata.
Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, perempuan, dan generasi muda, demokrasi diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi landasan bagi pembangunan yang menghormati keseimbangan ekosistem dan menjamin keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.(Red)
Editor : Redaksi