abadinews.id, Surabaya – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Surabaya memperkuat sinergi dalam penyebarluasan informasi terkait keamanan obat dan makanan kepada masyarakat. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan perlindungan konsumen melalui pemberitaan yang cepat, akurat, edukatif, dan bertanggung jawab.
Baca juga: BPOM Surabaya Selamatkan 10.000 Orang dari Ancaman Penyalahgunaan Obat Ilegal
Pertemuan yang mempertemukan jajaran PWI Jawa Timur dengan pimpinan BPOM Surabaya tersebut menjadi momentum membangun komunikasi yang lebih erat antara regulator dan insan pers. Kedua belah pihak sepakat bahwa media memiliki peran vital sebagai mitra dalam menyampaikan informasi sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memilih produk obat dan makanan yang aman, bermutu, dan memenuhi ketentuan.
Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, memberikan apresiasi terhadap kinerja BPOM Surabaya yang selama ini menjalankan tugas pengawasan di sektor yang sangat kompleks. Menurutnya, perkembangan industri farmasi, pangan, kosmetik, obat tradisional, hingga suplemen kesehatan yang semakin pesat menuntut BPOM untuk terus beradaptasi dengan berbagai tantangan baru, termasuk perkembangan teknologi digital.
Ia menjelaskan bahwa tugas BPOM tidak hanya sebatas melakukan pengawasan terhadap produk yang telah beredar di pasaran, tetapi juga mencakup pengawasan bahan baku, proses produksi, penerbitan izin edar, hingga memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan sebelum dikonsumsi masyarakat.
"Regulasi tidak pernah berhenti karena perkembangan industri obat dan makanan terus berjalan. Tugas BPOM sangat banyak, mulai dari pengawasan bahan baku, proses produksi, perizinan, hingga pengawasan produk yang beredar di pasar," ujar Lutfil.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi BPOM Indonesia jauh lebih besar dibandingkan banyak negara lain karena besarnya jumlah penduduk yang mencapai sekitar 280 juta jiwa. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat besar bagi berbagai jenis produk, baik produksi dalam negeri maupun impor.
Di sisi lain, perkembangan perdagangan elektronik turut memperluas jalur distribusi produk sehingga pengawasan harus dilakukan secara lebih adaptif dan berbasis teknologi.
Lutfil mengungkapkan bahwa setiap tahun BPOM mampu menerbitkan sekitar 200 ribu izin edar produk. Di saat yang sama, lembaga tersebut juga harus mengawasi puluhan juta produk yang beredar di tengah masyarakat, baik melalui toko konvensional maupun platform digital.
"Teknologi informasi membuat peredaran produk semakin luas. Karena itu, media memiliki peran penting sebagai jembatan informasi antara masyarakat dengan BPOM," katanya.
Ia berharap insan pers tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga mampu menjalankan fungsi kontrol sosial dengan memberikan informasi awal apabila menemukan dugaan pelanggaran di lapangan. Menurutnya, kecepatan publikasi yang dilakukan secara profesional justru menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat sebagai konsumen.
"Kalau ada indikasi di lapangan, silakan dikonfirmasi. Kalaupun belum sempat terkonfirmasi dan tujuannya untuk melindungi masyarakat, itu menjadi bagian dari fungsi kontrol media," tegasnya.
Baca juga: Direktur Tipikor Bareskrim Tetapkan Eks Pegawai BPOM Tersangka Kasus Pemerasan dan Gratifikasi
Sementara itu, Kepala BPOM Surabaya,Yudi Noviandi menegaskan bahwa keberhasilan pengawasan obat dan makanan tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah semata. Dukungan media massa dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kesadaran masyarakat sekaligus mempercepat penyebaran informasi apabila ditemukan produk yang tidak memenuhi ketentuan.
Ia mengakui selama ini komunikasi dengan media masih perlu terus diperkuat. Oleh karena itu, pertemuan bersama PWI Jawa Timur diharapkan menjadi titik awal terbentuknya kolaborasi yang lebih intensif dan berkelanjutan.
"Apa yang kami kerjakan tidak akan bermakna tanpa kehadiran media. Banyak persoalan di lapangan yang tidak bisa kami tangani sendiri apabila informasi tidak sampai kepada kami ataupun kepada masyarakat," ujar Yudi.
Menurutnya, keterbatasan jumlah kantor BPOM di Jawa Timur membuat pengawasan tidak mungkin dilakukan secara menyeluruh tanpa adanya dukungan berbagai pihak. Karena itu, media diharapkan menjadi mitra strategis yang mampu menyampaikan informasi dari masyarakat sekaligus membantu memberikan edukasi mengenai pentingnya memilih produk yang telah memenuhi standar keamanan.
Yudi juga menegaskan bahwa BPOM Surabaya terbuka terhadap kritik, saran, maupun masukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan keterbukaan informasi.
"Kami berharap setelah kegiatan ini komunikasi menjadi lebih mudah. Jika ada persoalan, teman-teman media bisa langsung berkoordinasi sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat," katanya.
Baca juga: Ditreskrimsus Polda Jateng Ringkus Peredaran Migor Tanpa Ijin
Dalam kesempatan tersebut, Yudi turut mengungkapkan capaian BPOM Surabaya yang berhasil meraih predikat Informatif dari Komisi Informasi Jawa Timur dengan nilai 99,68 pada tahun sebelumnya. Prestasi tersebut menjadi bukti komitmen lembaganya dalam menjalankan keterbukaan informasi publik sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ia berharap capaian tersebut tidak hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi juga diwujudkan melalui komunikasi yang lebih aktif, terbuka, dan responsif dengan media massa.
"Kami ingin ke depan bukan hanya informatif secara administrasi, tetapi juga semakin komunikatif dengan media. Informasi yang cepat, akurat, dan menarik akan membantu masyarakat mendapatkan perlindungan dari obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan," pungkasnya.
Sinergi antara PWI Jawa Timur dan BBPOM Surabaya diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Jawa Timur. Dengan dukungan media sebagai mitra strategis, informasi mengenai produk yang aman maupun potensi pelanggaran dapat lebih cepat diterima masyarakat, sehingga perlindungan terhadap konsumen semakin optimal di tengah pesatnya perkembangan industri dan perdagangan digital.(Red)
Editor : Redaksi