Kekayaan Budaya Jatim Dipadukan dengan UKM, UMKM dan Ekonomi Kreatif di Banyuwangi

avatar abadinews.id

abadinews.id, Bayuwangi - Kekayaan budaya Jawa Timur akan kembali menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha kecil, mikro, menengah, serta ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan The Biggest Culture of Jatim with UKM/UMKM & Ekraf Fiesta 2026.

 

Baca Juga: MAKI Jatim Turun Kawal Oplah Jember, Soroti Narasi yang Dinilai Tak Berbasis Data

Kegiatan yang mengusung tema “Bersama Kekayaan Budaya Jawa Timur, UKM/UMKM Berinovasi dan Bertumbuh Kembang Menuju Pasar Global, Lokal dan Nasional” itu dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Wisata Pancoran Waterpark, Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.

 

Gelaran tersebut merupakan kolaborasi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Korwil Jawa Timur bersama Pancoran Group. Perhelatan ini dirancang menjadi ruang pertemuan antara kekayaan budaya Jawa Timur dengan potensi UKM, UMKM, dan ekonomi kreatif.

 

Selain menjadi ajang promosi produk lokal, kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang interaksi dan kolaborasi antarpelaku usaha sekaligus memperluas akses mereka terhadap pasar.

 

Ketua MAKI Korwil Jawa Timur Heru Satriyo, S.Ip., mengatakan penyelenggaraan The Biggest Culture of Jatim 2026 diarahkan untuk menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

 

Menurut dia, salah satu fokus kegiatan adalah mendorong penguatan ekonomi kreatif sekaligus pemberdayaan pelaku UKM dan UMKM agar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

 

Konsep tersebut menempatkan budaya bukan sekadar sebagai warisan sosial dan sejarah, tetapi juga sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi masyarakat.

 

Kekayaan budaya yang dimiliki berbagai daerah di Jawa Timur dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan produk usaha yang memiliki karakter dan identitas lokal. Dengan sentuhan inovasi, produk tersebut kemudian dapat dikembangkan agar mampu mengikuti kebutuhan pasar.

 

 

Jawa Timur dikenal memiliki keragaman budaya yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap daerah memiliki karakter, tradisi, kesenian, kuliner, kerajinan, hingga berbagai bentuk kreativitas masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

 

Potensi tersebut menjadi salah satu dasar penyelenggaraan The Biggest Culture of Jatim 2026.

 

Melalui kegiatan tersebut, budaya diharapkan tidak berhenti pada aspek pertunjukan atau pelestarian. Kekayaan budaya juga dapat dihubungkan dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk berkembang.

 

Produk UKM dan UMKM yang berbasis kekayaan lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan daya saing lebih luas. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan inovasi pada berbagai aspek, mulai dari kualitas produk, kemasan, pemasaran, teknologi hingga strategi menjangkau konsumen.

 

Tema yang diangkat dalam kegiatan ini secara khusus menekankan pentingnya inovasi bagi pertumbuhan UKM dan UMKM menuju pasar global, lokal maupun nasional.

 

Pesan tersebut sekaligus mendorong pelaku usaha untuk tetap mempertahankan identitas lokal, tetapi tidak berhenti pada pola pengembangan yang konvensional.

 

Produk berbasis budaya memiliki kekuatan berupa cerita, karakter dan identitas daerah. Ketika dipadukan dengan desain yang menarik, teknologi, pemasaran digital dan inovasi produk, nilai tersebut dapat menjadi modal untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

 

 

 

Pengembangan UKM, UMKM dan ekonomi kreatif juga membutuhkan ekosistem yang saling mendukung.

 

Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan ruang untuk menjual produk. Mereka juga membutuhkan akses terhadap pemasaran, peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi, teknologi, jejaring bisnis serta peluang kolaborasi.

 

Karena itu, keterlibatan berbagai unsur menjadi penting. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, lembaga pendidikan, sektor swasta dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Baca Juga: Pergantian Ketua Baznas Jatim, MAKI Soroti Transparansi Laporan Keuangan dan Program Pemberdayaan

 

The Biggest Culture of Jatim with UKM/UMKM & Ekraf Fiesta 2026 diharapkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan berbagai unsur tersebut.

 

Kegiatan di Banyuwangi itu juga menjadi kesempatan bagi pelaku UKM dan UMKM untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat secara lebih luas. Di sisi lain, masyarakat dapat mengenal lebih dekat beragam produk lokal sekaligus melihat perkembangan ekonomi kreatif yang tumbuh dari potensi daerah.

 

Kolaborasi antara budaya dan ekonomi kreatif juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih besar.

 

Kreativitas anak muda, komunitas, pelaku seni, pelaku usaha dan penggerak budaya dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk melahirkan gagasan serta kolaborasi baru.

 

Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi baru.

 

 

 

Selain membawa misi penguatan ekonomi dan promosi budaya, The Biggest Culture of Jatim 2026 juga memasukkan kampanye anti-bullying sebagai bagian dari rangkaian pesan kegiatan.

 

Kehadiran kampanye tersebut menempatkan kegiatan budaya dan ekonomi kreatif tidak semata-mata sebagai ruang promosi dan transaksi, tetapi juga sebagai ruang membangun lingkungan sosial yang positif, inklusif dan saling menghargai.

 

Pesan anti-bullying menjadi relevan terutama karena generasi muda merupakan salah satu kekuatan penting dalam perkembangan sektor ekonomi kreatif.

 

Baca Juga: HUT ke-81 Pemprov Jatim,MAKI Jatim dan Pancoran Group Bersinergi Sukseskan Ekraf Fiesta 2026

Nilai kebersamaan, penghargaan terhadap perbedaan dan keberanian untuk berkreasi menjadi bagian dari lingkungan yang dibutuhkan agar generasi muda dapat berkembang secara positif.

 

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan diharapkan tidak hanya meninggalkan dampak ekonomi, tetapi juga membawa pesan sosial kepada masyarakat.

 

 

 

The Biggest Culture of Jatim with UKM/UMKM & Ekraf Fiesta 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 30 Oktober sampai 1 November 2026, di Wisata Pancoran Waterpark, Rogojampi, Banyuwangi.

 

Perhelatan tersebut membawa satu rangkaian besar yang menghubungkan budaya, UKM, UMKM dan ekonomi kreatif.

 

Banyuwangi dipilih sebagai lokasi kegiatan sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan potensi budaya dan ekonomi masyarakat dengan jaringan yang lebih luas.

 

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat secara langsung bagaimana kekayaan budaya Jawa Timur dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan perkembangan ekonomi kreatif.

 

Pada akhirnya, penguatan UKM, UMKM dan ekonomi kreatif membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan. Budaya menjadi identitas, kreativitas menjadi penggerak, sementara inovasi menjadi salah satu kunci agar produk lokal mampu berkembang.

 

The Biggest Culture of Jatim 2026 pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat promosi potensi daerah, memperluas jejaring pelaku usaha dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

 

Semangat tersebut terangkum dalam pesan besar kegiatan: kekayaan budaya Jawa Timur bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat dan menjadi bagian dari perjalanan produk lokal menuju pasar nasional hingga global.(Red)

Editor : Redaksi

abadinews.id horizontal

Berita Lainnya

abadinews.id horizontal