abadinews.id, Sumenep — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Pragaan menggelar kegiatan bertema “Menyemai Kesadaran Politik dan Kepemimpinan Perempuan” di Auditorium Lantai II Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Santri NU Pragaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Baca juga: HUT ke-22 DPD RI, Ning Lia Dorong Politik Humanis dan Perlindungan Anak Down Syndrome
Kegiatan tersebut menghadirkan anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran politik dan memperkuat kapasitas kepemimpinan kader perempuan agar mampu berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi serta pengambilan kebijakan publik.
Menurut Ning Lia, politik tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan dan kekuasaan, tetapi juga menyangkut kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk di bidang pendidikan dan pelayanan publik.
“Mau tidak mau proses demokrasi akan terus berjalan. Suka tidak suka ada DPD, DPR dan sebagainya,” ujar alumnus Universitas Airlangga tersebut.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam proses demokrasi. Namun, kesempatan tersebut perlu diimbangi dengan pengetahuan, keberanian, dan kemampuan menyampaikan aspirasi secara konstruktif.
“Jangan sampai ada ruang-ruang, tapi kita gak mengambil ruang itu,” tegas Ning Lia.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia memperkenalkan filosofi PEREMPUAN yang dirumuskan melalui sembilan nilai, yakni Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation.
Kesembilan nilai tersebut mencakup kepribadian, empati, tanggung jawab, keadilan, motivasi, pola pikir positif, sikap inklusif, kemampuan analitis, serta keterampilan bernegosiasi. Nilai-nilai ini diharapkan menjadi bekal bagi kader perempuan dalam mengembangkan kapasitas diri dan menjalankan peran kepemimpinan di tengah masyarakat.
Ning Lia menekankan bahwa kader perempuan perlu membiasakan diri memahami persoalan secara menyeluruh sebelum menyampaikan pendapat maupun menawarkan solusi. Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam politik tidak sekadar ditandai dengan kehadiran, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam pembahasan, pelaksanaan, dan pengawasan kebijakan publik.
Baca juga: Di Balik Karya Seni, Ada Kreativitas yang Layak Mendapat Apresiasi
Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan regulasi pemerintah, terutama kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan dan pelayanan masyarakat. Menurutnya, kader perempuan perlu memahami substansi kebijakan, menelaah dampaknya, serta menyampaikan kritik dan masukan berdasarkan argumentasi yang jelas.
Selain menekankan penguatan kapasitas individu, Ning Lia mendorong kader perempuan membangun solidaritas melalui semangat woman support woman. Prinsip ini mengajak perempuan untuk saling mendukung, membuka peluang bagi sesama, dan memperkuat kolaborasi agar semakin banyak perempuan memiliki kesempatan berkembang serta mengambil peran di ruang publik.
Solidaritas antarkader dinilai penting untuk memperluas jejaring, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam organisasi kemasyarakatan maupun kehidupan politik.
Ning Lia juga mendorong kader Fatayat NU memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana pendidikan politik. Media sosial, termasuk TikTok, serta berbagai platform digital dapat digunakan untuk menyebarluaskan gagasan, menjelaskan persoalan publik, dan menjangkau generasi muda.
Baca juga: Kepemimpinan Khofifah-Emil di HUT ke-81 Jatim, Lia Istifhama Tekankan Semangat Inklusivitas
Meski demikian, ia menekankan bahwa pemanfaatan media digital harus diimbangi dengan kemampuan memverifikasi informasi, menganalisis persoalan, dan menyampaikan pesan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, PAC Fatayat NU Pragaan diharapkan dapat memperkuat pemahaman kader mengenai pentingnya partisipasi perempuan dalam kehidupan demokrasi. Penguatan pengetahuan politik, karakter kepemimpinan, dan solidaritas antarkader menjadi bekal untuk mendorong perempuan mengambil peran lebih besar dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
Dengan kapasitas yang terus dikembangkan, kader perempuan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari proses demokrasi, tetapi juga mampu berkontribusi secara kritis, konstruktif, dan bertanggung jawab dalam mengawal kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan masyarakat.(Red)
Editor : Redaksi