abadinews.id,Sidoarjo, – Memperingati Hari Batik Nasional, fave hotel Sidoarjo berkolaborasi dengan Batik Namiroh, salah satu pengrajin dari Kampung Batik Jetis Sidoarjo milik Reynaldi, untuk menghadirkan pengalaman mengenal dan membuat batik secara langsung kepada para tamu hotel. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (3/10) tersebut digelar di area Lobby fave hotel Sidoarjo, sehingga para tamu dapat melihat secara langsung proses membatik sekaligus mengenal lebih dekat karya batik khas Sidoarjo.
Baca juga: Sunset Coffee di fave hotel Sidoarjo Buka Ruang Baru untuk Komunitas Sidoarjo
Tidak hanya melihat proses pembuatannya, para tamu juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba membatik dengan pendampingan dari pengrajin. Aktivitas ini menjadi bagian dari upaya fave hotel Sidoarjo untuk menghadirkan pengalaman yang mempertemukan tamu dengan salah satu warisan budaya Indonesia melalui proses yang lebih dekat dan interaktif.
Selain aktivitas membatik, area lobby juga menghadirkan display kain batik dari Batik Namiroh yang dapat dilihat dan dibeli oleh pengunjung. Beragam kain ditawarkan dengan kisaran harga mulai dari Rp250.000 hingga jutaan rupiah per lembar, tergantung pada jenis bahan, motif, proses pembuatan, dan kualitas kain.
Kolaborasi ini memberikan kesempatan bagi para tamu untuk tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami proses di balik pembuatannya. Kehadiran pengrajin secara langsung membuat aktivitas membatik dapat menjadi pengalaman edukatif sekaligus memperkenalkan Kampung Batik Jetis sebagai salah satu sentra batik yang berada di Sidoarjo.
General Manager fave hotel Sidoarjo, Eka Dewi, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan hotel dalam memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat dan para tamu.
“Kami ingin memperingati Hari Batik Nasional dengan cara yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada tamu. Melalui kolaborasi dengan Batik Namiroh, para tamu bisa melihat dan mencoba sendiri proses membatik serta mengenal lebih dekat karya pengrajin dari Kampung Batik Jetis. Bagi kami, memperkenalkan batik juga berarti ikut menjaga cerita dan proses yang ada di balik setiap kain,” ujar Eka Dewi.
Baca juga: fave hotel Sidoarjo dan Archipelago Hotels Ubah Kamar Lama untuk Anak Pejuang Kanker
Menurut Reynaldi, pemilik Batik Namiroh, kesempatan untuk memperkenalkan proses membatik secara langsung kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya.
“Batik bukan hanya soal kain dan motif, tetapi ada proses, ketelitian, dan cerita yang dibuat di setiap lembarannya. Ketika masyarakat bisa mencoba membatik secara langsung, mereka dapat lebih memahami bagaimana sebuah kain batik dibuat dan menghargai proses para pengrajinnya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat membuat batik semakin dikenal, terutama oleh generasi muda,” kata Reynaldi.
Baca juga: Sidoarjokes TARKOM Bikin Fave Hotel Sidoarjo Penuh Tawa, lebih dari 300 Penonton Hadir
Kehadiran Batik Namiroh di fave hotel Sidoarjo juga membuka kesempatan bagi para tamu untuk mengenal hasil karya pengrajin lokal tanpa harus datang langsung ke sentra batik. Beragam pilihan kain yang ditampilkan memperlihatkan bahwa batik memiliki variasi bahan, motif, dan kualitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi setiap orang.
Melalui kegiatan ini, fave hotel Sidoarjo berharap peringatan Hari Batik Nasional tidak hanya menjadi momentum untuk mengenakan batik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk semakin mengenal proses, nilai, dan cerita yang terkandung di dalamnya. Dengan melibatkan pengrajin secara langsung, kegiatan ini diharapkan dapat mempertemukan masyarakat dengan pelaku budaya lokal serta membuka ruang apresiasi yang lebih luas terhadap karya mereka.
Hari Batik Nasional menjadi pengingat bahwa menjaga budaya dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mengenal proses pembuatannya, menghargai karya pengrajin, dan memilih untuk mengenakan batik dalam berbagai kesempatan. Fave hotel Sidoarjo berharap semangat ini dapat terus tumbuh sehingga batik tetap menjadi bagian dari keseharian masyarakat dan terus dikenakan oleh generasi ke generasi.(Red)
Editor : Redaksi