Rina Imai Bangkit di Final ITF Widjojo Soejono 2026, Kunci Gelar lewat Super Tie-Break

Reporter : Dani

abadinews.id,SURABAYA — Petenis muda asal Jepang yang bernaung di Jakarta International Tennis Academy (JITA) Jakarta,Rina Imai, menunjukkan mental bertanding yang kuat pada final nomor tunggal putri ITF Widjojo Soejono 2026. Sempat kehilangan set pertama, Rina mampu bangkit dan membalikkan keadaan hingga akhirnya mengunci gelar melalui super tie-break.

 

Baca juga: Sadam-Fattah Ukir Prestasi, Juara Ganda Putra U10 ITF Widjojo Soejono

Pertandingan final berlangsung sengit di Lapangan Tenis Makodam V/Brawijaya Surabaya.Sabtu(3/10/26). Kedua petenis langsung tampil agresif sejak awal pertandingan dengan tempo permainan yang tinggi.

 

Reli-reli panjang dari baseline menjadi salah satu warna pertandingan. Kedua pemain berusaha mempertahankan konsistensi pukulan sekaligus mencari celah untuk mengambil poin dari lawan.

 

Dalam situasi tersebut, Rina harus menerima kenyataan kehilangan set pertama. Lawannya mampu mengamankan set pembuka dengan skor 7-5.

 

Tertinggal satu set membuat Rina berada dalam posisi yang tidak mudah. Ia dituntut segera menemukan kembali pola permainan dan menjaga konsentrasi agar pertandingan tidak semakin sulit.

 

Namun, situasi tersebut justru menjadi momentum bagi Rina untuk melakukan perubahan.

 

Memasuki set kedua, Rina tampil lebih tenang. Ia berusaha mengurangi kesalahan sendiri dan lebih konsisten dalam menjaga reli. Pola permainan yang lebih terkontrol membuat Rina mulai mendapatkan momentum.

 

Tekanan demi tekanan kemudian diberikan kepada lawannya. Rina mampu memanfaatkan kesempatan untuk mengumpulkan poin dan perlahan membangun keunggulan.

 

Perubahan tersebut berbuah hasil. Rina berhasil merebut set kedua dengan skor meyakinkan, 6-2.

 

Kedudukan yang kembali imbang membuat pertandingan harus ditentukan melalui super tie-break. Fase tersebut menjadi penentu gelar tunggal putri ITF Widjojo Soejono 2026.

 

Ketegangan semakin terasa ketika kedua petenis memasuki fase penentuan. Setiap poin memiliki arti penting. Rina berusaha menjaga ketenangan dan tidak terburu-buru dalam menentukan arah permainan.

 

Di sisi lain, lawannya juga terus memberikan perlawanan. Pertukaran bola berlangsung ketat hingga Rina akhirnya mampu mempertahankan keunggulannya.

 

Rina kemudian menutup super tie-break dengan skor 10-6.

 

Hasil tersebut memastikan kemenangan Rina dalam pertandingan final dengan skor 5-7, 6-2, 10-6.

 

Kemenangan itu menjadi catatan penting bagi perjalanan Rina sebagai petenis muda. Bukan hanya karena berhasil mengangkat trofi, tetapi juga karena ia mampu menunjukkan kemampuan bangkit ketika berada dalam posisi tertinggal.

 

Kehilangan set pertama tidak membuat Rina kehilangan fokus. Sebaliknya, ia mampu mengevaluasi permainan, memperbaiki konsistensi, kemudian mengambil kendali pertandingan pada set kedua.

Baca juga: Tunggal Putri U10 Tabitha Juara Tunggal ITF Junior Widjojo Soejono 2026

 

Kemampuan menjaga ketenangan juga kembali diuji ketika pertandingan harus ditentukan melalui super tie-break. Dalam kondisi tersebut, Rina mampu mempertahankan fokus hingga poin terakhir.

 

Pertandingan final tersebut sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi Rina dalam menghadapi atmosfer pertandingan dengan tekanan tinggi. Situasi seperti kehilangan set pertama dan harus bermain dalam fase penentuan menjadi bagian dari proses pembentukan mental bertanding seorang atlet muda.

 

Rina merupakan petenis muda asal Jepang yang mendapatkan pembinaan melalui Jakarta International Tennis Academy (JITA). Selain menjalani rutinitas latihan dan mengikuti berbagai kompetisi, Rina juga tetap menjalani pendidikan di Raffles Christian School.

 

Bagi Rina, perjalanan sebagai atlet tidak terlepas dari dukungan orang-orang terdekat. Keluarga dan teman-temannya menjadi bagian penting yang terus memberikan semangat selama dirinya menjalani latihan maupun pertandingan.

 

Usai pertandingan, Rina mengungkapkan kebahagiaannya setelah berhasil meraih kemenangan di partai final. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan teman-temannya yang terus memberikan dukungan.

 

“Happy and really thank you my family and friend,” ujar Rina.

 

Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa pertandingan tenis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melakukan pukulan. Dalam pertandingan dengan tekanan tinggi, konsentrasi, kemampuan membaca situasi, pengambilan keputusan, dan ketenangan juga menjadi faktor yang turut menentukan hasil.

 

Baca juga: Usia Baru 9 Tahun, Maulana Ifan Sanjaya Sudah Menorehkan Banyak Prestasi di Turnamen Tenis

Hal itu terlihat dalam perjalanan Rina pada final ITF Widjojo Soejono 2026. Setelah kehilangan set pertama dengan skor 5-7, ia mampu merespons dengan permainan yang lebih konsisten pada set kedua.

 

Rina kemudian merebut set kedua 6-2 dan memaksa pertandingan memasuki super tie-break. Pada fase inilah ketenangan kembali menjadi modal penting sebelum akhirnya ia menyelesaikan pertandingan dengan skor 10-6.

 

Bagi Rina, kemenangan di Surabaya tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan panjangnya di tenis junior. Pertandingan final memberikan kesempatan untuk merasakan tekanan sekaligus belajar bagaimana mengelola pertandingan ketika berada dalam situasi sulit.

 

Turnamen ITF Widjojo Soejono 2026 juga menjadi bagian dari proses pembinaan dan pengembangan kemampuan Rina. Pengalaman menghadapi pertandingan dengan intensitas tinggi diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi berikutnya.

 

Dengan dukungan keluarga, pendidikan di Raffles Christian School, serta pembinaan dari JITA, perjalanan Rina di dunia tenis junior masih panjang. Gelar dari final ITF Widjojo Soejono 2026 menjadi salah satu pijakan penting dalam proses tersebut.

 

Yang paling menonjol dari kemenangan Rina di Surabaya bukan hanya skor akhir 5-7, 6-2, 10-6, tetapi bagaimana ia mampu mengubah situasi pertandingan. Setelah kehilangan set pertama, Rina tidak menyerah dan justru menemukan kembali ritme permainannya.

 

Dari situ, ia mengambil momentum, memaksa pertandingan berlanjut ke super tie-break, kemudian menyelesaikannya dengan kemenangan.

 

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa dalam pertandingan tenis, satu set yang hilang belum tentu menentukan hasil akhir. Rina Imai membuktikannya melalui penampilan yang tenang, konsisten, dan mampu bangkit hingga akhirnya memastikan gelar juara tunggal putri ITF Widjojo Soejono 2026.(Red)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru