abadinews.id,Pasuruan - Pengurus Provinsi Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Pengprov GABSI) Jawa Timur bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menaruh harapan besar pada ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Bridge Jatim 2026.
Kejuaraan yang berlangsung di SMAN 1 Pandaan, Pasuruan, pada 16–18 Oktober 2026 dan diikuti 360 atlet dari 17 Pengcab ini diproyeksikan menjadi wadah utama pembinaan serta pemetaan kekuatan atlet daerah.
Ketua GABSI Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa Kejurprov merupakan pijakan dasar dalam membangun pondasi atlet agar siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui ajang ini, GABSI Jatim berkomitmen melakukan pemetaan secara maksimal untuk melahirkan bibit-bibit unggul. "Kita harapkan mereka punya basic yang kuat diawali dari tingkat lokal sebelum masuk ke tingkat nasional. Hasil dari Kejurprov ini diharapkan menjadi barometer ukuran kekuatan Jawa Timur," ujar Aries saat ditemui lokasi pertandingan, Sabtu (17/10).
Ia menekankan pentingnya pemetaan atlet daerah secara terukur, mengingat peta persaingan bridge di tingkat nasional tergolong ketat dengan dominasi dari sejumlah wilayah seperti Sulawesi Utara dan DKI Jakarta.
Menghadapi padatnya kalender kejuaraan serta mulainya Babak Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (BK PON) tahun depan, Pengprov GABSI Jatim juga akan memperketat tata kelola agenda pertandingan. Penataan ritme kompetisi dinilai krusial agar kualitas pertandingan dan proses pembinaan berejenjang atlet tetap terjaga tanpa memicu kelelahan berlebih.
"Pengurus menyelenggarakan kegiatan agar tidak tumpang tindih satu sama lain, sehingga atlet bisa berjenjang dengan baik. Kita mengatur agar atlet tidak sekadar mengejar jumlah event, melainkan mengutamakan kualitas di dalam pertandingan itu sendiri," jelasnya.
Kolaborasi dengan Sekolah
Sementara itu, Wakil Ketua IV KONI Jatim, Dedy Suhayadi, menilai Kejurprov memiliki peran yang sangat efektif dalam menjaring atlet bridge potensial. Menurutnya, olahraga bridge membutuhkan ketajaman logika, daya ingat, serta analisis strategi yang tinggi.
"Bridge ini memerlukan kemampuan analisis dan pemahaman kode yang cepat saat berpasangan di meja pertandingan," ungkap Dedy.
Dedy mendorong Pengprov GABSI untuk memperkuat kolaborasi dengan pihak sekolah guna memasyarakatkan bridge di kalangan pelajar. Ia mengapresiasi langkah SMAN 1 Pandaan yang memberikan ruang bagi perkembangan atlet melalui jalur prestasi dan fasilitas pendukung.
"Kolaborasi dengan sekolah sangat efektif. SMAN 1 Pandaan mendahulukan jalur prestasi bagi atlet bridge dan cabang olahraga lainnya, bahkan menyiapkan kelas khusus serta dispensasi latihan. Atlet itu butuh latihan konsisten karena mereka menuntut kedisiplinan tinggi," tutur Dedy.(Red)
Editor : Redaksi