Farhezi/Bima Tembus Semifinal ITF Widjojo Soejono 2026 Usai Lewati Laga Sengit

Reporter : Dani

abadinews.id,SURABAYA – Pasangan Farhezi Fico Putrayana Hardian (Bondowoso)/Bima Putra (Tulungagung) harus melewati pertandingan penuh drama untuk memastikan tiket ke semifinal ITF Widjojo Soejono 2026.

 

Baca juga: Kontingen Tenis Meja Jatim Dapat Suntikan Semangat Ketua DPD RI untuk PON Aceh-Sumut

Bertanding di Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (1/10/2026), Farhezi/Bima mengalahkan pasangan M. Ibrahim Humam (Semarang)/Putu Ardi (Bali) melalui pertandingan tiga set dengan skor 7-6, 3-6, 12-10.

 

Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Kedua pasangan saling beradu strategi dan tidak mudah memberikan poin. Setelah mengamankan set pertama melalui tie-break, Farhezi/Bima justru kehilangan momentum pada set kedua.

 

Pasangan Ibrahim/Putu mampu mengambil set kedua dengan skor 3-6 sehingga pertandingan harus ditentukan melalui set ketiga.

 

Di fase penentuan inilah mental dan stamina kedua pasangan benar-benar diuji. Farhezi/Bima akhirnya mampu menjaga konsentrasi hingga merebut kemenangan 12-10 sekaligus memastikan tempat di semifinal.

 

Bagi Farhezi, kemenangan tersebut menjadi pencapaian penting. Selain mengantarkan mereka ke empat besar, pertandingan panjang itu juga memberikan pengalaman berharga dalam menghadapi tekanan pada poin-poin krusial.

 

“Perasaannya saya merasa bangga hari ini bisa masuk semifinal. Mudah-mudahan bisa masuk final,” ujar Farhezi seusai pertandingan.

 

Namun, perjalanan menuju semifinal tidak berlangsung mulus. Farhezi mengaku sempat kehilangan kepercayaan diri ketika permainan mereka tidak berjalan sesuai harapan, terutama setelah harus menyerahkan set kedua kepada lawan.

 

“Pas sudah mulai mikir, kok begini terus, aku kalah. Kalau gini terus ya sudah, mikir-mikir menang, ya balik lagi, balik-balik aja,” katanya.

 

Dalam situasi tersebut, Farhezi berusaha mengembalikan fokus dan mencari kembali ritme permainan. Ia menyadari bahwa pertandingan belum berakhir dan peluang untuk membalikkan keadaan masih terbuka.

 

Persoalan lain yang harus dihadapi adalah kondisi fisik. Durasi pertandingan yang panjang membuat tenaga Farhezi terkuras, terutama ketika laga memasuki fase akhir.

 

“Kedua, saya sempat habis tenaga. Kok habis gini? Ya sudah, lebih awet aja,” ujarnya.

 

Di tengah kondisi fisik yang mulai menurun, Farhezi tetap berusaha menjaga konsentrasi. Set ketiga menjadi penentu karena setiap poin memiliki arti penting dan kesalahan kecil dapat mengubah jalannya pertandingan.

Baca juga: Wakapolda Tutup Turnamen Kapolda Jatim Cup Bulutangkis dan Tenis Meja 2023

 

Tantangan Farhezi/Bima semakin besar karena mereka belum pernah berhadapan dengan pasangan Ibrahim/Putu sebelumnya. Pertemuan di ITF Widjojo Soejono 2026 menjadi pengalaman pertama bagi kedua pasangan.

 

“Baru kali ini di Widjojo Soejono. Turnamen lain belum, belum ketemu,” ungkap petenis asal Bondowoso tersebut.

 

Kondisi itu membuat Farhezi/Bima harus membaca permainan lawan secara langsung. Strategi tidak bisa hanya mengandalkan persiapan sebelum pertandingan, tetapi harus terus disesuaikan berdasarkan pola permainan yang terlihat di lapangan.

 

Menurut Farhezi, perubahan mulai didapat ketika pertandingan memasuki set ketiga. Ia mulai menemukan pola permainan lawan dan mengetahui bagian yang bisa dimanfaatkan.

 

“Belum ketemu kelemahannya masih itu tadi. Nah, set ketiga sudah mulai bisa baca,” katanya.

 

Kemampuan membaca permainan tersebut menjadi salah satu kunci kebangkitan Farhezi/Bima. Setelah kehilangan set kedua, mereka mampu kembali menemukan momentum dan menjaga permainan tetap berada dalam tekanan hingga akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 12-10.

Baca juga: Polda Jatim Peringati HPN 2023, Gelar Turnamen Bulutangkis dan Tenis Meja

 

Laga tersebut sekaligus menjadi pelajaran penting bagi Farhezi. Pertandingan tiga set dengan selisih poin yang sangat tipis mengajarkannya pentingnya menjaga stamina, konsentrasi, sekaligus ketenangan ketika pertandingan memasuki fase penentuan.

 

Kini, fokus Farhezi/Bima beralih ke semifinal. Ia tidak ingin persiapan dilakukan secara mendadak. Evaluasi terhadap pertandingan sebelumnya akan menjadi bagian penting sebelum menghadapi lawan berikutnya.

 

“Iya, buat persiapan besok ya lebih baik dari sekarang lah daripada sekarang,” tuturnya.

 

Farhezi sendiri merupakan petenis asal Bondowoso yang saat ini menempuh pendidikan di SMA NU. Perjalanannya di dunia tenis terus berkembang melalui berbagai pertandingan, termasuk ajang ITF Widjojo Soejono yang mempertemukan petenis-petenis muda dari berbagai daerah dan negara.

 

Keberhasilan menembus semifinal membuat Farhezi/Bima kini tinggal satu kemenangan lagi untuk mencapai partai final. Meski tantangan berikutnya dipastikan kembali berat, kemenangan dramatis atas Ibrahim/Putu menjadi modal penting.

 

Farhezi pun membawa target sederhana menghadapi semifinal: mempersiapkan diri lebih baik, menjaga stamina, lebih cepat membaca permainan lawan, dan tampil maksimal demi membuka peluang melangkah ke final ITF Widjojo Soejono 2026.(Red)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru